Sawit atau Suara Rakyat? Banjir Sumatera Mengungkap Krisis Bencana Nasional

Saturday, 6 December 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi.foto dok BP

Ilustrasi.foto dok BP

#PrayForSumatera: Seribuan Jiwa Melayang, Sawit Jadi “Karunia” di Tengah Duka

– Bayangkan ribuan keluarga kehilangan rumah dalam semalam, ratusan mayat bergelimpangan di lumpur, sementara presiden menyebut kelapa sawit sebagai “karunia Tuhan” yang bisa selamatkan energi nasional. Inilah potret pilu banjir bandang di Sumatera yang memperlebar luka– duka-cita nasional–di saat pemerintah masih ragu menetapkan status bencana nasional.

Di tengah duka mendalam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Presiden Prabowo Subianto memicu kontroversi dengan pidatonya pada peringatan HUT ke-61 Partai Golkar di Istora Senayan, Jumat (5/12/2025). “Kita diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa, kita punya kelapa sawit. Kelapa sawit bisa jadi BBM, bisa jadi solar, bisa jadi bensin juga,” ujarnya, menekankan potensi sawit sebagai solusi krisis energi global.

Pernyataan ini langsung disambut gelombang kritik, karena dianggap tidak peka terhadap bencana hidrometeorologi yang telah merenggut ratusan nyawa, memporak-porandakan ribuan rumah serta menghancurkan mimpi anak-anak bangsa.

Bencana banjir bandang dan longsor yang dimulai akhir November 2025 ini telah menewaskan setidaknya 914 orang catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) perhari Sabtu, 6/12/2025: 359 di Aceh, 329 di Sumatera Utara, dan 226 di Sumatera Barat. Lebih dari 389 orang hilang, 4.200 luka-luka, dan puluhan ribu mengungsi. Dampak curah hujan ekstrem yang diperparah deforestasi masif, termasuk konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Reaksi kekecewaan  masyarakat viral di media sosial. Ribuan warganet membagikan foto lahan gambut gundul, banjir dahsyat, dan korban jiwa sebagai protes. “Sawit karunia?” Banyak yang mempertanyakan mengapa petani sawit kecil tetap miskin, sementara korporasi besar untung triliunan.

Pendukung Prabowo membela, menyebut pidato itu tentang kemandirian energi, bukan pembenaran deforestasi, asal dikelola dengan regulasi ketat tanpa rusak hutan primer.

BACA JUGA  Evaluasi Kebijakan HAP Singkong: Dampak Penurunan Pabrik dan Peralihan Petani ke Komoditas Lain

Namun, polemik ini semakin membara karena kritik terhadap respons pemerintah yang dinilai lamban. Kelompok masyarakat sipil dan DPR mendesak Presiden Prabowo segera menetapkan status bencana nasional untuk memperlancar bantuan internasional dan koordinasi nasional. Hingga kini, pemerintah belum menetapkannya, dengan alasan penanganan bisa dilakukan tanpa status itu untuk fokus pada respons cepat. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) serta BNPB menyatakan bahwa keputusan ada di tangan presiden.

Menurut analis dari The Conversation  minimnya kemauan politik membuat respons terkesan lamban. “Deteksi bencana tanpa komitmen politik menghasilkan respons lambat dan minim mitigasi,”

Polemik ini menegaskan sensitivitas isu sawit–faktor: deforestasi–di Indonesia, di mana potensi ekonomi berbenturan dengan risiko ekologis. Tanpa langkah tegas, duka Sumatera bisa berulang, meninggalkan pertanyaan: Apakah “karunia” sawit benar-benar untuk rakyat, atau hanya untuk segelintir?

 

Suara Rakyat

DPRD Sumut Desak Pemerintah Pusat Tetapkan Bencana Sumatera Jadi Bencana Nasional. Ketua Fraksi PDIP DPRD Sumut Mangapul Purba SE MIKom mendesak Pemerintah Pusat segera menetapkan bencana longsor dan banjir di Sumatera Utara Sumatera Barat dan Aceh sebagai bencana Nasional.

Mangapul Purba SE MIKom juga menegaskan kemampuan pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota telah jauh melampaui batas mengingat kerusakan yang sangat parah dan meluas.

Ketua Fraksi PDIP DPRD Sumut menjelaskan kepada awak media ini bencana di Sumatera Utara telah merusak fasilitas umum memutuskan akses jalan dan jembatan memutuskan aliran listrik di sejumlah daerah, hingga membuat stok air bersih langka sementara itu banyak rumah mengalami kerusakan dan kekurangan obat obatan. Masih banyak wilayah terisolasi yang belum tersentuh bantuan, mobilitas kemanusiaan terhambat karena akses terputus, situasinya sangat kritis tegas Mangapul Purba SE MIKom kepada awak media, dilokasi bencana alam di Tapanuli Tengah Sumatera Utara Sabtu (6/12/2025).

BACA JUGA  Hari Pers Nasional 2026: Antara Kebebasan yang Dirayakan dan Independensi yang Terus Diuji

Mangapul juga menyebutkan kondisi di lapangan jauh lebih memperihatinkan dibandingkan laporan yang beredar. Alat berat sangat terbatas membuka akses, perahu karet sangat minim. Bantuan logistik daerah pun sangat kurang. “Tanpa intervensi (bencana nasional) pemerintah pusat, mustahil penanggulangan bencana ini berjalan dengan cepat”, ujarnya.

Mangapul melihat tidak ada alasan lagi Pemerintah Pusat Untuk memutuskan penetapan status nasional mengingat ancaman lanjutan yang membayangi masyarakat korban bencana alam.

“Jika pemerintah Pusat tidak segera turun tangan, korban akan terus bertambah bukan hanya karena bencana alam tetapi akibat kelaparan penyakit dan depresi. Rakyat diwilayah terdampak kian bertambah diambang bencana kemanusiaan berikutnya”, kata Mangapul Purba.

Meski demikian, Mangapul, mengapresiasi kerja keras jajaran pemerintah daerah BPBD dan TNI dan Polri yang sudah bekerja maksimal dengan kondisi dilapangan sangat berat. Namun Ia menekan bahwa skala berikutnya tidak mungkin ditangani hanya oleh Pemerintah Daerah.

“Di daerah sangat ekstra bekerja, sangat kelelahan, ini butuh kekuatan penuh dari Pemerintah Pusat.
Karena itu kami mendesak agar bencana alam di Sumatera segera ditetapkan sebagai bencana Nasional”, pungkasnya menutup pembicaraan.

*)

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa: Boomerang atau Penegakan Hukum yang Adil? Perkara Segera ke Meja Hijau, Pelapor Wajib Hadir dengan Ijazah Asli
Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa: Ruang Bernapas bagi Penyidik Menuntaskan Perkara Kompleks
Jejak Digital yang Membakar Garis Massa: Teka-teki Video Viral Adian Semprot Budiman
Analisis Komunikasi Politik: Strategi “Penjumlahan Keliru” Prabowo, Disinyalir Ujian Loyalitas Instan di Podium Munas HIPMI
Fenomena Pejabat MBG (Maling, Begal, Garong) dan Kultur Korup yang Nggak Ada Matinya
Menimbang Ulang WTP: Ketika “Wajar” Menjadi Normalisasi yang Semu
Menuju Kuadropolitika Mikro: Mengapa KPU Layak Menjadi Cabang Kekuasaan Keempat?
Menguji Otot APBN pada Jantung Koperasi Merah Putih

Berita Terkait

Monday, 22 June 2026 - 01:40 WIB

Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa: Boomerang atau Penegakan Hukum yang Adil? Perkara Segera ke Meja Hijau, Pelapor Wajib Hadir dengan Ijazah Asli

Saturday, 20 June 2026 - 17:33 WIB

Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa: Ruang Bernapas bagi Penyidik Menuntaskan Perkara Kompleks

Wednesday, 17 June 2026 - 08:03 WIB

Jejak Digital yang Membakar Garis Massa: Teka-teki Video Viral Adian Semprot Budiman

Saturday, 13 June 2026 - 18:31 WIB

Analisis Komunikasi Politik: Strategi “Penjumlahan Keliru” Prabowo, Disinyalir Ujian Loyalitas Instan di Podium Munas HIPMI

Tuesday, 9 June 2026 - 05:48 WIB

Fenomena Pejabat MBG (Maling, Begal, Garong) dan Kultur Korup yang Nggak Ada Matinya

Berita Terbaru