Regulasi Parkir di Bandar Lampung Disorot, Legalitas Juru Parkir Jadi Sorotan Utama

Saturday, 11 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bongkar Post | Bandar Lampung– Pengelolaan parkir di Kota Bandar Lampung kembali menjadi sorotan publik. Banyak kalangan mempertanyakan legalitas juru parkir on-street maupun off-street yang dinilai belum memenuhi ketentuan hukum nasional dan daerah.

Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, setiap pelaku usaha wajib memiliki legalitas resmi sebelum menjalankan kegiatannya. Ketentuan ini menjadi fondasi sistem perizinan berbasis risiko di Indonesia. Selanjutnya, Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 Pasal 1 ayat (12) menegaskan bahwa *Nomor Induk Berusaha (NIB)* merupakan identitas wajib bagi pelaku usaha. Kegiatan jasa parkir yang tercantum dalam KBLI 52214 (perparkiran di badan jalan/on-street) dan KBLI 52215 (perparkiran di luar badan jalan/off-street) termasuk dalam kategori ini.

Pasal 4 regulasi yang sama menyatakan bahwa usaha dengan risiko menengah hingga tinggi wajib dilengkapi Sertifikat Standar yang diverifikasi oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) serta ditandatangani secara elektronik oleh kepala daerah.

Di tingkat daerah, Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, khususnya Pasal 66, menegaskan bahwa retribusi parkir hanya boleh dipungut oleh subjek retribusi yang sah, yaitu pihak yang telah memiliki legalitas usaha termasuk NIB.

Namun, hasil investigasi lapangan menunjukkan bahwa tidak ada satu pun juru parkir on-street maupun off-street di Bandar Lampung yang memiliki legalitas NIB . Jika temuan ini akurat, maka seluruh aktivitas pemungutan retribusi parkir berpotensi tidak sah secara hukum dan bertentangan dengan asas legalitas yang menjadi dasar pembentukan regulasi.

Mendagri Tito Karnavian pernah menyoroti potensi besar sektor parkir bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ia menyatakan:
>

“Parkir itu salah satu contoh sumber PAD yang potensinya besar. Kalau dibuat sistem yang baik, kebocoran bisa ditekan dan uangnya masuk ke kas daerah, bukan ke oknum.”

Pernyataan tersebut semakin relevan di Bandar Lampung, di mana pengelolaan parkir yang belum tertata baik berisiko menyebabkan kebocoran pendapatan daerah sekaligus menimbulkan gangguan lalu lintas serta ketidaknyamanan masyarakat.

BACA JUGA  DA Club 41 Reborn di Palembang: Antara Pembukaan Kembali dan Ancaman Penutupan

Pengamat menilai, pemungutan retribusi oleh pihak tanpa legalitas justru bertentangan dengan semangat regulasi nasional dan daerah yang bertujuan menciptakan tata kelola yang tertib, transparan, serta melindungi masyarakat dari praktik tidak resmi.

Pemerintah Kota Bandar Lampung telah melakukan beberapa upaya penertiban. Pada Maret 2026, Wali Kota Eva Dwiana menegaskan kewajiban bagi pelaku usaha untuk menyediakan lahan parkir sendiri. Dinas Perhubungan (Dishub) membentuk Satgas bersama Polresta untuk menertibkan parkir liar di jalan-jalan utama. Selain itu, ada rencana penerapan sistem “parkir satu kali bayar” di Pasar Tengah, pasalnya pengunjung mengeluhkan tarif parkir ganda (masuk bayar keluar bayar).Juga peninggian trotoar dan pemasangan barrier di depan mal dan pasar untuk mencegah parkir liar.

Meski demikian, langkah-langkah tersebut dinilai masih bersifat reaktif dan sementara. Setiap kali operasi Satgas berakhir, parkir liar sering muncul kembali. Operasi Keselamatan Krakatau 2026, misalnya, hanya memberikan imbauan agar juru parkir “lebih tertib” tanpa adanya terobosan fundamental, seperti kewajiban kepemilikan NIB bagi seluruh pengelola maupun juru parkir.

Optimalisasi PAD

Penataan parkir yang komprehensif dan berbasis regulasi bukan hanya soal ketertiban lalu lintas, melainkan juga optimalisasi PAD yang selama ini berpotensi bocor. Dibutuhkan komitmen kuat dari semua pihak untuk membangun sistem parkir yang legal, transparan, dan profesional agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan kas daerah.

[]

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Sinergi Kejagung–Polri: Antara Kolaborasi Penegakan Hukum dan Ujian Kepercayaan Publik
Mahfud MD Soroti Pelimpahan Kasus Dugaan Korupsi-TPPU Febrie Adriansyah ke Kejagung: Tidak Tepat Itu Salah, Berpotensi Dibatalkan Pra Peradilan
Pelimpahan Kasus Korupsi dan TPPU Febrie Adriansyah ke Kejagung: Sinergi atau Jalan Menuju Mangkrak?
Reformasi Polri yang Belum Selesai: Momentum HUT Bhayangkara ke-80 untuk Transformasi Sejati
Lukas Luwarso Kritik Lingkaran Jokowi: Foto dengan Lima Tokoh Adat Lampung Soroti Masalah Hukum dan Politik
Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa: Boomerang atau Penegakan Hukum yang Adil? Perkara Segera ke Meja Hijau, Pelapor Wajib Hadir dengan Ijazah Asli
Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa: Ruang Bernapas bagi Penyidik Menuntaskan Perkara Kompleks
Jejak Digital yang Membakar Garis Massa: Teka-teki Video Viral Adian Semprot Budiman

Berita Terkait

Tuesday, 14 July 2026 - 13:36 WIB

Sinergi Kejagung–Polri: Antara Kolaborasi Penegakan Hukum dan Ujian Kepercayaan Publik

Sunday, 12 July 2026 - 20:10 WIB

Mahfud MD Soroti Pelimpahan Kasus Dugaan Korupsi-TPPU Febrie Adriansyah ke Kejagung: Tidak Tepat Itu Salah, Berpotensi Dibatalkan Pra Peradilan

Saturday, 11 July 2026 - 14:49 WIB

Pelimpahan Kasus Korupsi dan TPPU Febrie Adriansyah ke Kejagung: Sinergi atau Jalan Menuju Mangkrak?

Wednesday, 1 July 2026 - 13:35 WIB

Reformasi Polri yang Belum Selesai: Momentum HUT Bhayangkara ke-80 untuk Transformasi Sejati

Tuesday, 30 June 2026 - 07:18 WIB

Lukas Luwarso Kritik Lingkaran Jokowi: Foto dengan Lima Tokoh Adat Lampung Soroti Masalah Hukum dan Politik

Berita Terbaru