Memutus Nadi Begal Bukan dengan Peluru, Tapi Menghancurkan Pasar Penadah
Oleh: Redaksi Investigasi
Lampung kembali mencekam. Rentetan aksi begal bersenjata api (bersenpi) yang kian masif belakangan ini bukan sekadar residu kemiskinan atau kegagalan patroli malam. Jika kita berani membedah anatomi kejahatan jalanan ini lebih dalam, peluru yang menembus dada korban bukan hanya dilesakkan oleh eksekutor di lapangan, melainkan juga “dibiayai” oleh dinginnya transaksi di meja-meja penadah.
Selama ini, narasi aparat dan media terlalu sibuk pada drama pengejaran pelaku. Kita bersorak saat seorang eksekutor tersungkur diterjang timah panas, namun kita lupa bahwa ada pasar gelap yang sedang menunggu kiriman motor-motor berlumur darah itu. Di sinilah letak masalahnya: begal adalah bisnis, dan bisnis hanya hidup selama ada pembeli.
Rantai Pasok yang “Rapi”
Berdasarkan penelusuran lapangan, pola aksi bersenpi menunjukkan adanya peningkatan modal kerja. Senjata api rakitan tidak murah; ada biaya sewa dan pembelian amunisi yang harus ditutup. Uang itu mustahil berasal dari tabungan pribadi pelaku yang rata-rata pengangguran. Itu adalah “investasi” yang hanya bisa kembali jika barang jarahan cepat cair menjadi uang tunai.
Di Lampung, penadah bukan lagi sekadar individu yang mencari motor murah. Mereka telah berevolusi menjadi jaringan terorganisir. Ada yang berperan sebagai “gudang” di desa-desa terpencil, ada yang ahli memutilasi suku cadang untuk dijual terpisah (kanibalan), hingga jaringan antar-provinsi yang mampu mengirimkan unit bodong melintasi selat dengan dokumen palsu yang rapi.
Data dan Realita yang Pahit
Data kriminalitas menunjukkan korelasi unik: setiap kali operasi pasar atau penindakan terhadap penadah (pasal 480 KUHP) kendor, angka pembegalan melonjak. Sebaliknya, meski ratusan eksekutor dipenjara, selama “lubang penampungan” masih menganga, rekrutmen begal baru akan terus lahir. Bagi mereka, risiko tertembak adalah bagian dari pekerjaan, namun kepastian adanya pembeli adalah alasan mereka tetap turun ke jalan.
Banyak warga kita yang secara tidak sadar—atau pura-pura tidak tahu—menjadi bagian dari rantai darah ini. Membeli motor tanpa surat dengan harga miring di media sosial adalah tindakan yang secara tidak langsung mengisi peluru ke dalam senpi para pembegal. Tanpa sadar, uang yang Anda hemat dengan membeli “motor yatim” adalah upah bagi mereka yang merenggut nyawa orang lain di aspal jalanan.
Mematikan “Demand”
Sudah saatnya strategi keamanan bergeser. Menembak kaki begal adalah solusi jangka pendek yang reaktif. Solusi jangka panjang yang progresif adalah menghancurkan ekosistem penadahnya.
Gubernur Mirza dan jajaran Kapolda Lampung harus mulai masuk ke ranah digital dan pemetaan wilayah yang dikenal sebagai “zona merah” penampungan. Operasi senyap terhadap pasar-pasar suku cadang gelap dan pengetatan pengawasan di pintu-pintu keluar pelabuhan harus menjadi prioritas.
Jika penadah sulit menjual barang, nilai risiko begal akan menjadi terlalu tinggi dibandingkan hasilnya. Ketika motor jarahan hanya menjadi rongsokan yang tidak laku dijual, maka otomatis senpi-senpi itu akan berhenti menyalak.
Kesimpulan:
Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan jalanan Lampung menjadi ajang judi nyawa. Memutus nadi begal berarti harus berani menghancurkan pasar gelapnya. Jangan hanya kejar pelakunya ke hutan, tapi kejar aliran uangnya ke rumah-rumah mewah para cukong penadah. Tanpa pembeli, begal hanyalah penjahat tanpa pekerjaan.
(*)
Penulis : Redaksi
Editor : Bongkar Post









