SIMALUNGUN,BP – Sebuah insiden penembakan yang menggemparkan di areal perkebunan kelapa sawit PTPN IV Regional 2 Unit Kebun Marihat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, telah memicu tuntutan keras dari kalangan aktivis sosial. Ketua LSM Peduli Anak Bangsa Kabupaten Simalungun, WH Butarbutar, mendesak Direksi PalmCo PTPN IV untuk segera mencopot Andi Sahatman Purba (ASP) dari jabatannya sebagai Manajer Kebun Marihat, dengan alasan kurangnya etos kerja dan profesionalisme yang diduga berkontribusi pada kejadian tragis tersebut.
Insiden penembakan terjadi pada malam 3 Desember 2025 di Blok 52, Afdeling 4, Kebun Marihat, Nagori Silampuyang, Kecamatan Tanah Jawa. Menurut laporan awal, personel keamanan aset perkebunan menghadapi sekelompok tujuh pria yang diduga melakukan pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Satu orang, Josua, berhasil diamankan dan diserahkan ke Polres Simalungun. Namun, korban lain, Rudianto alias Muntuk (43 tahun), warga Simpang Murni, Nagori Marubun Jaya, mengalami luka tembak parah di kepala setelah diduga dipukuli terlebih dahulu. Peluru masuk dari belakang tengkorak bawah dan keluar ke atas, menyebabkan kondisinya kritis. Saat ini, Rudianto dirawat di ICU Rumah Sakit Balimbingan, dengan kemungkinan dirujuk ke RS Efarina di Pematang Siantar. Keluarga korban berencana melaporkan kejadian ini ke polisi setelah memperoleh visum medis.
“Penyampaian desakan pencopotan sosok berinisial ASP dari jabatan Manajer Kebun Marihat bukan tanpa alasan jelas,” tegas WH Butarbutar dalam pernyataannya pada 6 Desember 2025. Ia menyoroti bahwa kejadian ini mencerminkan kegagalan manajemen dalam membina personel keamanan, yang berujung pada tindakan “barbar” dan tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP). Butarbutar juga menuding adanya masalah kronis di bawah kepemimpinan ASP, termasuk kerusakan lingkungan akibat galian ilegal batu padas, dugaan korupsi anggaran pemeliharaan tanaman, serta penelantaran areal perkebunan. “Areal tanaman di Afdeling 3 dipenuhi semak belukar dan serangan hama, mengindikasikan pembiaran yang disengaja dan mengakibatkan kerugian materi bagi perusahaan BUMN ini,” tambahnya.
Upaya konfirmasi kepada pihak terkait menemui jalan buntu. Manajer ASP tidak merespons pertanyaan media dan bahkan dilaporkan memblokir kontak. Asisten Kepala Tanaman Benny juga enggan berkomentar melalui pesan seluler. Sementara itu, mantan Asisten Personalia Okta Sinaga menyatakan bahwa ia tidak lagi bertugas di Kebun Marihat. Hingga berita ini diturunkan, PTPN IV belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai identitas pelaku penembakan, jenis senjata yang digunakan, atau langkah investigasi internal.
Kejadian ini bukan yang pertama menimpa PTPN IV. Perusahaan milik negara ini telah lama dikritik atas isu kerugian aset dan salah urus, dengan laporan sebelumnya pada 2023 dan 2024 menyoroti kinerja buruk di Regional II. WH Butarbutar, sebagai aktivis yang dikenal vokal dalam isu korupsi dan lingkungan di Simalungun, menegaskan bahwa tuntutan ini bertujuan mencegah kerugian lebih lanjut bagi negara dan masyarakat sekitar.
Polres Simalungun sedang menyelidiki kasus ini, meski detail jenis senjata dan kronologi masih belum terungkap. Masyarakat setempat berharap keadilan bagi korban dan reformasi manajemen di perkebunan negara. Pantauan lebih lanjut akan disampaikan seiring perkembangan investigasi.
.
Penulis : S.Hadi PURBA
Editor : MR Masjudin









