Mengapa Islam Melarang Penggambaran Wajah Rasulullah SAW? Sebuah Refleksi di Era Kecerdasan Buatan

Tuesday, 21 July 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

*Mengapa Islam Melarang Penggambaran Wajah Rasulullah SAW? Sebuah Refleksi di Era Kecerdasan Buatan*

Oleh: Jurnalis Bongkar Post

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah wajah dunia digital. Kini, hanya dengan beberapa kalimat perintah (prompt), seseorang dapat menghasilkan gambar, video, hingga animasi yang tampak begitu nyata. Patung dapat dibuat seolah berbicara, lukisan bisa bergerak, bahkan tokoh sejarah dapat divisualisasikan seperti masih hidup.

Di balik kecanggihan tersebut, muncul pula tantangan baru. Teknologi deepfake memungkinkan manipulasi visual dan audio dengan tingkat kemiripan yang sulit dibedakan dari kenyataan. Bagi dunia kreatif, AI membuka peluang besar. Namun, di sisi lain, ia juga menghadirkan persoalan serius tentang etika, kejujuran, dan penghormatan terhadap simbol-simbol yang dimuliakan.

Dalam konteks itu, larangan dalam Islam terhadap penggambaran wajah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menjadi menarik untuk direnungkan.

Larangan tersebut bukan sekadar dipahami sebagai aturan keagamaan, melainkan juga mengandung hikmah untuk menjaga kemuliaan Rasulullah SAW dari penyalahgunaan, pengultusan, maupun distorsi yang dapat muncul seiring perkembangan zaman.

AI dan Ancaman Manipulasi Visual

Hari ini, siapa pun dapat menghidupkan gambar melalui AI. Sebuah ilustrasi dapat dibuat tersenyum, berbicara, tertawa, bahkan mengucapkan kalimat yang tidak pernah diucapkan oleh sosok aslinya.

Sebagian mungkin beralasan bahwa semua itu hanya hiburan atau media edukasi. Namun, ketika objek yang dimanipulasi adalah figur yang dihormati miliaran orang, persoalannya tidak lagi sesederhana kreativitas digital. Manipulasi semacam itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, menyinggung keyakinan, bahkan memicu konflik sosial.

Fenomena inilah yang menunjukkan bahwa kemajuan teknologi selalu membutuhkan pagar berupa etika.

Nilai yang Tetap Relevan

Sebagai sebuah pandangan, penulis melihat bahwa nilai yang terkandung dalam ajaran Islam mengenai larangan penggambaran Rasulullah SAW justru terasa semakin relevan di era AI.

BACA JUGA  Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa: Boomerang atau Penegakan Hukum yang Adil? Perkara Segera ke Meja Hijau, Pelapor Wajib Hadir dengan Ijazah Asli

Lebih dari 14 abad lalu, ketika teknologi digital bahkan belum terbayangkan, Islam telah menempatkan penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW di atas kepentingan visualisasi. Hikmah tersebut dapat dipahami sebagai upaya menjaga kemurnian penghormatan kepada Rasulullah sekaligus mencegah lahirnya penyimpangan yang mungkin terjadi di masa depan.

Tentu, tidak dapat dikatakan bahwa ajaran tersebut secara khusus ditujukan untuk mengantisipasi teknologi AI. Namun, perkembangan zaman menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dikandungnya tetap memiliki relevansi dalam menghadapi tantangan modern.

Teknologi Tidak Pernah Menggantikan Etika

AI hanyalah alat. Teknologi tidak memiliki moral; manusialah yang menentukan arah penggunaannya.

Semakin canggih teknologi berkembang, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya. Kreativitas tanpa etika dapat berubah menjadi penyebaran disinformasi, penghinaan terhadap keyakinan, hingga pelanggaran hak dan martabat seseorang.

Karena itu, kemajuan teknologi seharusnya berjalan beriringan dengan nilai moral, agama, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Tanggung Jawab Kreator Konten

Para kreator konten memegang peran penting dalam membentuk ruang digital yang sehat. Setiap karya yang dipublikasikan dapat menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan detik.

Menggunakan AI secara bertanggung jawab bukan berarti membatasi kreativitas, melainkan memastikan bahwa kreativitas tersebut tetap menghormati nilai-nilai kemanusiaan, agama, dan etika publik.

Pada akhirnya, teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin pintar, semakin realistis, dan semakin mudah diakses. Namun, satu hal yang tidak boleh tertinggal adalah kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya.

Jejak digital hampir tidak pernah benar-benar hilang. Sekali sebuah konten dipublikasikan dan menyebar di media sosial, salinannya dapat tersimpan di berbagai perangkat serta platform dalam waktu yang sangat lama.

Di tengah derasnya arus inovasi digital, mungkin inilah saatnya kita kembali mengingat bahwa tidak semua hal yang dapat dibuat oleh teknologi harus dibuat. Ada batas-batas etika yang layak dijaga, bukan karena teknologi tidak mampu melampauinya, melainkan karena manusia masih memiliki tanggung jawab moral untuk menentukan mana yang patut dan mana yang tidak.
(*)

BACA JUGA  Menimbang Ulang WTP: Ketika "Wajar" Menjadi Normalisasi yang Semu

Penulis : Rusmin

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Mahfud MD Soroti Pelimpahan Kasus Dugaan Korupsi-TPPU Febrie Adriansyah ke Kejagung: Tidak Tepat Itu Salah, Berpotensi Dibatalkan Pra Peradilan
Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa: Boomerang atau Penegakan Hukum yang Adil? Perkara Segera ke Meja Hijau, Pelapor Wajib Hadir dengan Ijazah Asli
Jejak Digital yang Membakar Garis Massa: Teka-teki Video Viral Adian Semprot Budiman
Fenomena Pejabat MBG (Maling, Begal, Garong) dan Kultur Korup yang Nggak Ada Matinya
Bongkar Sensus Ekonomi 2026: Harapan Transformasi vs Realitas Kesenjangan Data
Administratif 100%, Substansi Masih Dipertanyakan
Takedown Berita karena Imbalan: Pengkhianatan Terang-terangan terhadap Publik
Sinergi atau Subordinasi? Ketika Pers Terlalu Nyaman dengan Kekuasaan

Berita Terkait

Tuesday, 21 July 2026 - 17:38 WIB

Mengapa Islam Melarang Penggambaran Wajah Rasulullah SAW? Sebuah Refleksi di Era Kecerdasan Buatan

Sunday, 12 July 2026 - 20:10 WIB

Mahfud MD Soroti Pelimpahan Kasus Dugaan Korupsi-TPPU Febrie Adriansyah ke Kejagung: Tidak Tepat Itu Salah, Berpotensi Dibatalkan Pra Peradilan

Monday, 22 June 2026 - 01:40 WIB

Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa: Boomerang atau Penegakan Hukum yang Adil? Perkara Segera ke Meja Hijau, Pelapor Wajib Hadir dengan Ijazah Asli

Wednesday, 17 June 2026 - 08:03 WIB

Jejak Digital yang Membakar Garis Massa: Teka-teki Video Viral Adian Semprot Budiman

Tuesday, 9 June 2026 - 05:48 WIB

Fenomena Pejabat MBG (Maling, Begal, Garong) dan Kultur Korup yang Nggak Ada Matinya

Berita Terbaru