Jalan Raya Rusak, Ancaman Nyata bagi Keselamatan Pengguna Jalan dan Bisa Berujung Pidana

Tuesday, 17 February 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Bandar Lampung, BP-

Jalan Rusak, Masalah Lama yang Terus Mengancam Pengguna Jalan

Kerusakan jalan masih menjadi persoalan yang sering ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Jalan berlubang, permukaan yang bergelombang, hingga aspal yang mengelupas bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Kondisi ini biasanya semakin parah saat musim hujan karena air dapat menutup lubang jalan sehingga sulit terlihat oleh pengendara.

Banyak kecelakaan terjadi ketika pengendara berusaha menghindari lubang jalan atau kehilangan kendali akibat kondisi jalan yang tidak layak. Jalan rusak bahkan dapat memicu tabrakan dan menimbulkan korban jiwa.

Penanggung Jawab Jalan Rusak Menurut Undang-Undang

Kerusakan jalan sebenarnya sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Dalam Pasal 24 disebutkan bahwa penyelenggara jalan wajib segera memperbaiki jalan rusak yang dapat menimbulkan kecelakaan. Jika perbaikan belum dapat dilakukan, maka pihak terkait wajib memberikan tanda atau rambu peringatan pada lokasi kerusakan.

Penyelenggara jalan yang dimaksud meliputi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, tergantung status jalan. Jalan nasional menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, jalan provinsi dikelola pemerintah provinsi, sedangkan jalan kabupaten atau kota menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Jalan juga memperkuat kewajiban pemerintah dalam penyelenggaraan, pengawasan, dan pemeliharaan infrastruktur jalan.

Ancaman Pidana bagi Penyelenggara Jalan

Pembiaran jalan rusak bukan hanya pelanggaran administratif, tetapi juga dapat berujung pada sanksi pidana. Dalam Pasal 273 UU LLAJ dijelaskan bahwa penyelenggara jalan yang tidak segera memperbaiki kerusakan jalan hingga menyebabkan kecelakaan dapat dikenakan hukuman sebagai berikut:

Jika menimbulkan luka ringan atau kerusakan kendaraan, dapat dipidana kurungan maksimal 6 bulan atau denda hingga Rp12 juta.

BACA JUGA  Tol Terpeka, Netizen: Kok Rakyat Bayar Dua Kali? APBN Buat Bangun, Sekarang Tarif Bikin Miskin Lagi!

Jika menyebabkan luka berat, ancaman pidana maksimal 1 tahun atau denda hingga Rp24 juta.

Jika mengakibatkan korban meninggal dunia, pelaku dapat dipidana penjara hingga 5 tahun atau denda maksimal Rp120 juta.

Ketentuan tersebut menegaskan bahwa keselamatan pengguna jalan menjadi tanggung jawab hukum penyelenggara jalan.

Korban Jalan Rusak Berhak Menuntut Ganti Rugi

Selain sanksi pidana, korban kecelakaan akibat jalan rusak juga berpotensi menuntut ganti rugi melalui jalur hukum. Pemerintah dapat dianggap melakukan perbuatan melawan hukum apabila tidak memperbaiki jalan rusak atau tidak memberikan tanda peringatan yang memadai.

Namun, proses tuntutan tetap harus memperhatikan fakta kejadian, termasuk apakah pengendara telah mematuhi aturan lalu lintas dan berkendara dengan aman.

Pentingnya Perawatan Jalan untuk Keselamatan Publik

Jalan yang baik merupakan fasilitas publik yang harus dijaga kualitasnya untuk menunjang mobilitas masyarakat dan mendukung aktivitas ekonomi. Pemerintah sebagai penyelenggara jalan wajib memastikan jalan berada dalam kondisi aman, nyaman, dan layak digunakan. Perawatan rutin dan respons cepat terhadap kerusakan menjadi langkah penting untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas.

Kesadaran masyarakat juga diperlukan dengan melaporkan kerusakan jalan kepada pihak berwenang agar penanganan dapat segera dilakukan.

Kesimpulan, jalan rusak bukan sekadar masalah infrastruktur, tetapi juga menyangkut keselamatan pengguna jalan. Undang-undang telah mengatur tanggung jawab penyelenggara jalan untuk melakukan perbaikan dan memberikan perlindungan kepada masyarakat. Jika kewajiban tersebut diabaikan dan menimbulkan kecelakaan, maka sanksi pidana hingga hukuman penjara dapat dikenakan.

Dengan adanya regulasi ini, diharapkan kualitas jalan di Indonesia dapat terus meningkat dan keselamatan pengguna jalan lebih terjamin.

(*)

Editor : Rusmin

Berita Terkait

Video Viral Klaim SPPG Milik Gubernur Lampung, BGN Lampung Bantah: Hanya Salah Ucap
Penertiban Parkir Liar di Depan Mall Chandra Tanjung Karang Disorot, Warga Minta Penataan Juga di Pasar Tugu
Status Jalan Penghubung Medasari–Mesuji Dipertanyakan, Warga Swadaya Perbaiki Akses Rusak Bertahun-tahun
Aksi Massa di Kejagung Soroti Proyek Rehab Irigasi Way Bumi Agung BBA.4 Lampung Utara
Cabut HGU 85 Ribu Hektare di Lampung: Negara Hadir, Tapi Terlambat?
Bongkar Post Group Bersilaturahmi dengan Ketua DPRD Lampung Utara
Soal Kenaikan UMP, Ini Tanggapan Yusnadi, Anggota DPRD Lampung Fraksi PKS
Presiden Prabowo Yakin Indonesia Mampu Tangani Bencana Sumatera Secara Mandiri

Berita Terkait

Thursday, 26 February 2026 - 19:18 WIB

Video Viral Klaim SPPG Milik Gubernur Lampung, BGN Lampung Bantah: Hanya Salah Ucap

Tuesday, 17 February 2026 - 02:08 WIB

Jalan Raya Rusak, Ancaman Nyata bagi Keselamatan Pengguna Jalan dan Bisa Berujung Pidana

Monday, 16 February 2026 - 13:59 WIB

Status Jalan Penghubung Medasari–Mesuji Dipertanyakan, Warga Swadaya Perbaiki Akses Rusak Bertahun-tahun

Tuesday, 10 February 2026 - 07:04 WIB

Aksi Massa di Kejagung Soroti Proyek Rehab Irigasi Way Bumi Agung BBA.4 Lampung Utara

Wednesday, 21 January 2026 - 19:31 WIB

Cabut HGU 85 Ribu Hektare di Lampung: Negara Hadir, Tapi Terlambat?

Berita Terbaru

E-Paper

Mirza – Eva Kompak Safari Ramadhan di Sumur Batu

Wednesday, 25 Feb 2026 - 22:01 WIB

photo kolase dok Bongkar Post

Editorial

Transformasi Satgas MBG Lampung Jadi Gerakan Hukum Terpadu?

Wednesday, 25 Feb 2026 - 13:55 WIB