Pengantar Redaksi
Tulisan ini bukan sekadar rangkaian nasihat seorang ayah kepada anaknya. Ia adalah potret kegelisahan zaman: ketika banyak orang lebih sibuk meremehkan diri sendiri, gemar mengeluh ke semua arah, dan perlahan menyerahkan keberanian mereka sebelum benar-benar bertarung. Di tengah dunia yang penuh penilaian, ejekan, dan kepalsuan moral, pesan ini hadir sebagai pengingat bahwa kegagalan paling berbahaya bukan datang dari luar, melainkan tumbuh diam-diam dari dalam diri.
Melalui bahasa yang lugas dan reflektif, pembaca diajak menafsirkan ulang makna diremehkan, netralitas, keberanian, dan pengabdian. Tentang profesi yang bisa menjadi misi, tentang keberpihakan yang kerap disamarkan sebagai “aman”, serta tentang iman dan prinsip yang tidak selalu populer, tapi harus tetap diperjuangkan. Ini adalah seruan agar kita berhenti hidup setengah-setengah, berhenti mengemis pengakuan, dan mulai berdiri tegak pada keyakinan yang dipilih dengan sadar.
Redaksi menilai tulisan ini relevan dibaca siapa pun yang pernah diragukan, dipandang sebelah mata, atau hampir menyerah pada dirinya sendiri. Sebab, seperti yang ditegaskan di sini, orang lain boleh meremehkan—tetapi jangan sampai kita ikut melakukannya pada diri sendiri.
**
Meremehkan diri sendiri & hobi mengeluh dengan semua orang adalah cara halus untuk gagal
Gunakan setiap ejekan & diremehkan sebagai cermin bukan sebagai penghalang, yg penting jangan pernah kamu meremehkan dirimu sendiri & orang2 yg telah menjadi teammu nak. Diremehkan bukan selalu tanda kamu salah, kadang itu tanda bahwa kamu sedang berada satu langkah lebih maju dari pemahaman & cara berpikir mereka yg meremehkanmu nak.
Pesan Ayah…
Menjadi lawyer itu adalah profesi, sedangkan berdakwa di jalan Allah adalah misi. Ketika kamu membela orang2 yg terzalimi, apalagi orang itu tidak mampu untuk mendapatkan keadilan, itu juga sama dengan misi nak.
Banyak tuhan2 bertulang menjilat didepan para raja2 melakukan perintah Tuhan didepan manusia lainnya & para raja2 itu, tapi dalam kesendirian didepan Tuhan yang Maha melihat, tuhan2 bertulang & para pengikutnya itu mereka melakukan perintah Iblis?
Orang boleh meremehkan, tapi jangan sampai kamu ikut meremehkan dirimu sendiri. Dunia ini tidak selalu percaya, tapi kamu harus selalu yakin. Tidak ada yg lebih menyakitkan daripada diremehkan. Saat orang lain menatapmu dengan pandangan ragu, atau diam2 menilai langkahmu sebagai sesuatu yg sia2. Semua itu membuatmu ingin berhenti, atau setidaknya mulai meragukan dirimu sendiri. Tapi yg paling berbahaya bukanlah keraguan orang lain _ melainkan saat kamu mulai percaya bahwa kamu tidak mampu & tidak akan berhasil.
Tidak perlu semua orang harus tahu alasan dibalik setiap langkah2mu nak, cukup orang yang benar bisa menjaga rahasia & orang yg benar2 bisa kau percaya saja yg tahu, karena orang tidak akan mengerti alasanmu. Ada yg akan menganggapmu terlalu idealis, ada yg bilang kamu naif, ada pula yg berpikir kamu sedang mengejar sesuatu yg mustahil. Tapi keyakinan menurut Ayahmu ini, bukan sesuatu yg harus disetujui oleh semua orang.
Hidup yg setengah2 sering terasa lebih melelahkan daripada hidup yg sungguh2. Manusia ingin hidup aman, tapi juga ingin dianggap berani, padahal mereka selalu pilih zona nyaman & selalu pilih main aman. Ada juga yg ingin terlihat jujur, tapi takut kehilangan. Akhirnya, banyak keputusan diambil dengan ragu, banyak langkah dijalani tanpa keyakinan. Padahal hidup tidak pernah benar2 memberi ruang bagi orang yang terus menunda & hanya menunggu keberuntungan.
Nak, sering kali masih banyak manusia yg terjebak pada definisi “netral” sebagai posisi aman atau tidak memihak. Namun, di sini kita diajak untuk melihat netralitas sebagai independensi pikiran. Bukan Berdiri di Tengah: Menjadi netral bukan berarti menjadi penonton yang pasif atau “abu-abu”. Jika ada ketidakadilan, berdiri di tengah justru merupakan bentuk keberpihakan pada kenyamanan diri sendiri.
Seseorang disebut netral jika keputusannya lahir dari kejernihan logikanya sendiri, bukan karena tekanan, pesanan, atau sekadar ikut-ikutan arus besar.
Keberanian bersikap: menegaskan bahwa orang yg sekadar diam di tengah sering kali didorong oleh rasa takut, takut menanggung risiko dari sebuah pilihan.
Jadi, netralitas sejati sebenarnya menuntut kecerdasan & keberanian untuk menyatakan “ya” atau “tidak” berdasarkan prinsip yg diyakini secara mandiri bukan ikut2an.
Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu nak, tapi mereka menganggap dirinya sendirilah yg tidak mampu & cukup baik. Mereka juga hobi mengeluh kesembarang orang atau kesemua orang, tangannya juga terlalu mudah selalu dibawah, tapi mau nya dibilang hebat terus, padahal sebenarnya mereka lemah & rapuh seperti sarang laba. Mereka sering berpikir orang lain lebih berbakat, lebih beruntung, & lebih punya kesempatan. Pikiran seperti itu & tangan yg hobi dibawah, akhirnya pelan2 mematikan keberanian & akhirnya mereka hanya bisa menyalahkan orang lain atas kegagalannya.
(*)
*) Pengusaha dan Pemerhati Kebijakan Publik
Penulis : Eral Hengki
Editor : Rusmin









