Sumatera Utara, BP – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara sejak akhir November 2025 telah menimbulkan duka mendalam bagi ribuan warga. Sedikitnya 43 orang tewas, 88 hilang, dan lebih dari 1.000 warga mengungsi akibat bencana hidrometeorologi ini, yang juga merusak infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan.
Di tengah upaya penanggulangan bencana, isu deforestasi masif yang selama ini menjadi pemicu utama bencana serupa kembali mengemuka, memicu kritik tajam terhadap kebijakan pengelolaan hutan nasional pemerintah di masa lalu. Sebuah cuplikan wawancara berusia lebih dari satu dekade dari serial dokumenter mendadak menjadi bahan perbincangan panas di media sosial, di mana aktor Hollywood Harrison Ford mempertanyakan hilangnya tutupan hutan secara drastis di Indonesia.
Bencana ini bukanlah yang pertama kali melanda Sumatera Utara. Hujan deras yang mengguyur selama berhari-hari sejak 24 November 2025 memicu longsor dan banjir di setidaknya 12 kabupaten/kota, termasuk Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Sibolga, dan Nias Selatan. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total ada 221 kejadian bencana, terdiri dari 119 longsor, 90 banjir, 10 pohon tumbang, dan 2 angin puting beliung. Korban jiwa terus bertambah; laporan terbaru mencatat 212 korban secara keseluruhan, dengan 43 meninggal dunia, 81 luka-luka, dan 88 masih dalam pencarian. Ribuan warga terdampak, termasuk 1.168 pengungsi, sementara akses jalan seperti di Tolang Mondang lumpuh total akibat material longsor dan genangan air.
Para ahli dan aktivis lingkungan menyalahkan deforestasi sebagai biang keladi utama. Rianda Purba, Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara, menegaskan bahwa tingginya deforestasi di sekitar wilayah terdampak membuat sungai-sungai seperti Batang Toru mudah meluap. “Di hulunya ada tiga sumber aliran air yang tutupan hutannya sebagian sudah hilang,” kata Rianda, sambil menuding PT Agincourt Resources—anak usaha PT United Tractors Tbk—bertanggung jawab atas konsesi tambang Martabe seluas 130.253 hektare yang diterbitkan sejak 1997.
Ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) juga menyoroti interaksi antara atmosfer dan geospasial, di mana hilangnya hutan memperburuk dampak cuaca ekstrem.
Bencana ini tak hanya terbatas di Sumatera Utara; wilayah tetangga seperti Aceh dan Sumatera Barat juga terdampak, dengan total korban mencapai 104 orang meninggal di seluruh Pulau Sumatera.
Di tengah duka ini, netizen di platform X (sebelumnya Twitter) ramai membagikan ulang cuplikan dari episode tahun 2013, di mana Harrison Ford, sebagai koresponden, melakukan investigasi ke Indonesia untuk mengungkap praktik penebangan hutan ilegal. Ford, yang dikenal sebagai aktivis lingkungan, mengunjungi Tesso Nilo National Park di Sumatra dan mewawancarai pejabat tinggi, termasuk Menteri Kehutanan saat itu, Zulkifli Hasan (Zulhas).
Dalam segmen yang paling banyak dibagikan, Ford dengan tegas mempertanyakan hilangnya lebih dari 80% tutupan hutan dalam waktu singkat, serta keterlibatan korporasi besar yang diduga dilindungi oleh oknum penguasa. “Mengapa Anda harus menguras hutan saya?” tanya Ford dalam salah satu klip, yang kini viral lagi sebagai kritik terhadap kebijakan lama.
Wawancara itu sempat memicu kontroversi pada 2013. Ford bertemu Zulhas dan menekan soal korupsi serta deforestasi yang merajalela, yang menyebabkan keluhan dari pejabat Indonesia. Produser serial tersebut, Jeff Horowitz, menyatakan bahwa Indonesia dipilih karena tantangan keseimbangan antara perlindungan hutan dan pembangunan ekonomi.
Kini, di 2025, video itu kembali beredar luas di X, dengan pengguna seperti @sasaputri466403 menulis: “Zulkifli Hasan Dituding Jadi Penyebab Banjir Sumatera, Warganet Ungkit Momen Zulhas Diomeli Harrison Ford Soal Rusaknya Hutan.”
Pengguna lain, @DombaHitamManis membagikan link dokumenter lengkap, menyoroti menit-menit krusial di mana Ford mempertanyakan kebijakan pemerintah. Banyak netizen menyatakan kekecewaan, seperti @jeanne_nana yang menyebut pejabat “egois” dan mengabaikan peringatan Ford tentang deforestasi. Kritik ini mencerminkan luka lama pengelolaan hutan nasional Indonesia. Meski ada kemajuan seperti program REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation) sejak 2013, deforestasi tetap menjadi masalah kronis.
Aktivis seperti Aida Greenbury di X menyoroti kasus-kasus terkini, termasuk penebangan hutan untuk proyek infrastruktur, yang memperburuk kerentanan terhadap bencana alam. “Film-film genre disaster selalu diawali dengan peringatan ilmuwan yang diabaikan,” tulis @TogaHQ menyindir sikap pemerintah.
Pemerintah saat ini telah mengerahkan 1.030 personel Polri untuk operasi kemanusiaan, termasuk evakuasi dan distribusi bantuan. Namun, tragedi ini menjadi pengingat bahwa pencegahan jangka panjang melalui pengelolaan hutan berkelanjutan mutlak diperlukan. Seperti yang ditunjukkan oleh wawancara Ford lebih dari satu dekade lalu, mengabaikan peringatan bisa berujung pada bencana berulang.
Masyarakat kini menuntut akuntabilitas lebih besar dari korporasi dan pemerintah untuk melindungi hutan yang tersisa, sebelum duka serupa terulang lagi.
*)
Editor : MR Masjudin










