**Venezuela sebagai “Korban” dalam Persaingan Geopolitik AS-Rusia-China**
Penangkapan dramatis Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan khusus AS (Delta Force) pada 3 Januari 2026 bukan sekadar akhir dari rezim otoriter yang kontroversial. Ini adalah klimaks dari persaingan geopolitik sengit antara tiga kekuatan besar dunia: Amerika Serikat, Rusia, dan China. Di tengah “permainan” ini, Venezuela—negara kaya minyak dengan cadangan terbesar dunia—menjadi korban utama, medan proxy yang hancur oleh kepentingan asing.
“Venezuela telah menjadi proxy bagi perebutan pengaruh geopolitik dan budaya di Amerika yang dilakukan oleh AS, China, Rusia, dan pihak lain,” tulis David Jessop, analis dari The Caribbean Council, dalam analisisnya tentang krisis Venezuela. Pernyataan ini menggarisbawahi bagaimana negara Amerika Latin ini terjepit dalam rivalitas global, mirip era Perang Dingin.
Operasi militer AS yang cepat dan presisi ini—melibatkan serangan udara dan raid langsung ke Caracas—menunjukkan dominasi AS di “belakang halaman” sendiri (Western Hemisphere). Presiden Donald Trump mengumumkan keberhasilan ini melalui Truth Social, menyatakan Maduro dan istrinya telah dibawa ke AS untuk diadili atas tuduhan narco-terrorism.
Bagi AS, ini adalah kemenangan: menghapus ancaman langsung, mengamankan akses minyak, dan melemahkan pengaruh musuh. Namun, bagi Rusia dan China, ini pukulan telak. Moskow kehilangan sekutu kunci yang menyediakan minyak untuk bypass sanksi Ukraina, sementara Beijing rugi miliaran dolar investasi melalui Belt and Road Initiative serta kesepakatan oil-for-loans.
“Tidak ada alasan bagi Rusia atau China untuk bertaruh segalanya membela Venezuela mengingat masalah lain yang mereka hadapi, seperti perang Rusia di Ukraina dan upaya China berdampingan dengan Presiden Trump,” ujar Prof. Fernando Reyes Matta, direktur Centre for China Studies di Andrés Bello University, Chile. Ini menjelaskan mengapa dukungan Rusia-China lebih bersifat simbolis belakangan ini, meninggalkan Venezuela semakin rentan.
Perspektif Berlawanan: Argumen Kuat dari AS
Namun, tidak semua melihat peristiwa ini sebagai Venezuela semata-mata menjadi korban imperialisme AS. Dari sudut pandang Washington, operasi ini justru merupakan tindakan keadilan untuk melindungi demokrasi, mengakhiri represi brutal rezim Maduro, dan menghentikan pengaruh Rusia-China yang justru memperpanjang penderitaan rakyat Venezuela sendiri.
Presiden Trump menyebut Maduro sebagai “diktator tidak sah yang bertanggung jawab atas membawa ‘jumlah kolosal obat-obatan terlarang mematikan’ ke Amerika Serikat,” serta menegaskan bahwa rezim tersebut telah menjadikan Venezuela sebagai “negara narco-terroris” yang merusak rakyatnya sendiri. Seorang senator AS menyatakan, “Maduro adalah kepala Cartel de Los Soles, organisasi narco-terror yang telah mengambil alih negara tersebut,” menekankan bahwa penangkapan ini dilakukan dengan profesionalisme untuk mengakhiri kejahatan terorganisir yang didukung rezim.
Pengaruh Rusia (senjata dan advisor militer yang mendukung represi) serta China (pinjaman predator yang membebani ekonomi) dianggap oleh AS sebagai faktor utama yang mempertahankan Maduro di kekuasaan, sehingga menghalangi restorasi demokrasi dan memperburuk krisis kemanusiaan—termasuk hiperinflasi, kelaparan, dan eksodus jutaan warga. Dengan kata lain, intervensi ini dipandang sebagai pembebasan bagi rakyat Venezuela dari rezim yang dipertahankan oleh kekuatan asing yang merugikan mereka.
Venezuela telah lama menjadi arena great power competition. Rezim Maduro bertahan berkat dukungan Rusia (senjata, advisor militer) dan China (pinjaman besar), sementara AS memberlakukan sanksi keras untuk regime change. Hasilnya? Rakyat Venezuela menderita hiperinflasi, kelaparan, dan migrasi massal bertahun-tahun. Kekayaan minyak mereka dieksploitasi untuk kepentingan asing, bukan kesejahteraan domestik.
Kini, meski banyak warga Venezuela merayakan di jalanan—melihat ini sebagai pembebasan dari diktator—risiko kekosongan kekuasaan tetap ada. Jika transisi gagal, chaos bisa muncul, dan Venezuela kembali menjadi pion dalam ronde berikutnya.
Secara keseluruhan, peristiwa ini mengingatkan kita pada era Perang Dingin: negara kecil seperti Venezuela sering terjepit, menjadi korban ambisi superpower. Harapan terbaik adalah transisi damai menuju demokrasi sejati, di mana rakyat—bukan AS, Rusia, atau China—yang menentukan nasib sendiri. Tapi sejarah menunjukkan, itu jarang terjadi tanpa biaya mahal.
Editor : Redaksi








