**Padang Pariaman, BP – Di balik bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November lalu—dengan lebih dari 1.000 jiwa melayang dan ratusan ribu rumah rusak akibat Siklon Tropis Senyar—ada cerita-cerita kecil yang menyinari kegelapan duka. Cerita tentang personel Polri yang tak hanya menjaga keamanan, tapi menjadi saudara, ayah, dan sekaligus harapan bagi ribuan korban.
Di Nagari Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman—salah satu wilayah terparah di Sumatera Barat—personel Satuan Brimob Polda Lampung menempuh jalur terjal berlumpur dan banjir untuk mendirikan dapur lapangan. Pada 7 Desember 2025, mereka tiba di SDN 05 Batang Anai, Desa Sungai Buluh. Dari pagi hingga malam, api kompor tak pernah padam. Ratusan porsi nasi hangat dengan lauk sederhana dimasak dan dibagikan kepada warga yang desanya terisolasi.“Melihat anak-anak dan lansia makan dengan lahap, rasa lelah hilang seketika,” ujar salah seorang personel Brimob Lampung yang enggan disebut namanya. Dapur lapangan ini berpindah lokasi berkali-kali: dari Sungai Buluh ke Kampuang Tengah Talao Mundam, hingga Desa Banda Cino. Tak hanya makanan, mereka juga mendistribusikan air bersih dan membantu evakuasi warga yang rumahnya tertimbun longsor.
Komandan Satuan Brimob Polda Lampung, Kombes Pol Yustanto Mujiharso, menegaskan, “Ini bukan sekadar tugas, tapi panggilan hati. Kami datang dari Lampung, tapi rasa sakit warga Sumbar adalah rasa sakit kami juga.” Pengabdian serupa terlihat di berbagai titik. Di posko pengungsian Padang Panjang dan Agam, polwan dan tim trauma healing Polri menggelar kegiatan untuk anak-anak: bermain, bernyanyi, dan membagikan alat tulis. Tawa anak-anak yang sempat hilang akibat trauma banjir bandang, perlahan kembali.
Seorang ibu di Desa Sungai Buluh Barat, yang rumahnya rusak berat, berkata dengan mata berkaca-kaca: “Polisi ini seperti keluarga sendiri. Mereka datang membawa makanan, tapi yang lebih penting, membawa semangat hidup kembali.” Di tengah evakuasi korban longsor di Sibolga dan Tapanuli, personel Polri bahu-membahu dengan Basarnas dan TNI, menembus medan berbahaya untuk menyelamatkan nyawa.
Bencana ini, menurut BNPB per 19 Desember 2025, telah merenggut lebih dari 1.072 nyawa dengan 186 orang masih hilang. Namun, di balik bencana, pengabdian Polri—dari dapur lapangan hingga pelukan trauma healing—membuktikan bahwa institusi bhayangkara negara tak hanya penegak hukum, tapi pelindung kemanusiaan sejati.
Kisah-kisah ini bukanlah propaganda, melainkan potret nyata solidaritas di saat bangsa sedang diuji. Polri, dengan segala keterbatasan, terus hadir. Mereka mengingatkan kita: di tengah dinginnya bencana, ada api hangat pengabdian yang tak pernah padam. Semoga cerita ini menginspirasi, dan Indonesia segera bangkit dari duka. *)
Penulis : Rusmin








