Oleh: Eral Hengki
(Pengamat Kebijakan Publik)
KEMISKINAN bukan skenario Tuhan, melainkan buah dari cara berpikir manusia yang mudah silau oleh kemasan. Perubahan menuntut keberanian. Doa tanpa tindakan hanya melanggengkan status quo, sementara segelintir pihak terus diuntungkan oleh sistem yang timpang.
Dunia bukan diatur semata oleh uang, jabatan, atau kekuasaan. Jika itu benar, tak akan ada “raja kecil” yang terjaring OTT, atau aparat hukum yang dihukum. Dunia bergerak oleh strategi dan pengalaman. Nasib tidak berubah hanya dengan keinginan; ia menuntut keberanian menghadapi risiko. Sukses ditentukan niat dan usaha, bukan sekadar gelar. Demokrasi pun hakikatnya menghitung manusia, bukan menimbangnya.
Keangkuhan spiritual muncul saat orang mengira bahagia tanpa uang, sementara media kerap membuat publik nyaman dalam ketidaktahuan. Hidup menuntut keberanian keluar dari zona nyaman. Berpikirlah luas, berbicaralah sederhana. Kecerdasan sejati bukan mempersulit, melainkan memudahkan orang lain memahami. Mereka yang benar-benar paham tak butuh kata rumit.
Pendidikan yang menekankan hafalan dan pilihan ganda kerap membatasi daya kritis. Kebiasaan berpikir sempit membuat orang mencari perlindungan semu pada kekuasaan manusia—yang setinggi apa pun tetap rapuh di hadapan strategi dan pengalaman. Al-Qur’an mengingatkan: pelindung selain Allah ibarat rumah laba-laba, tampak kokoh namun paling lemah (QS. Al-‘Ankabut: 41).
Bayangkan kekayaan datang mendadak bukan dari inovasi atau kerja keras, melainkan dari menilap uang publik. Masalah utamanya bukan menghabiskan uang, melainkan menjelaskan asal-usulnya. Uang korupsi ibarat durian runtuh: wangi menggoda, durinya siap menusuk kapan saja.
Di era keuangan modern, uang punya jejak. Ketika kisahnya tak selaras dengan profil pajak, pekerjaan, dan gaya hidup, alarm negara berbunyi. Pencucian uang bukan menghapus uang kotor, melainkan mengubah narasinya—dari hasil kejahatan menjadi “prestasi bisnis”. Skemanya serupa: uang diselipkan ke sistem, diputar agar jejak kabur, lalu kembali dengan wajah sah.
Bisnis kerap dijadikan topeng moral. Laporan keuangan berubah menjadi naskah drama; tujuan utamanya bukan laba, melainkan legitimasi. Perusahaan cangkang pun bermunculan—legal di atas kertas, hampa di dunia nyata. Skandal Panama Papers dan Pandora Papers membuktikan praktik ini nyata dan sistemik.
Namun waktu dan pertukaran data tak pernah lupa. Uang mungkin kembali sebagai “investasi” dan pelaku dipuja sebagai pengusaha, padahal itu hanya uang rakyat dengan topeng baru. Kekayaan yang tak sebanding dengan kontribusi nyata selalu bisa dibuka menjadi isu nasional.
Di era data global, pelarian kian sempit. Dan pada akhirnya, rompi oranye menjadi pengingat: uang hasil korupsi bisa diputar, tetapi sejarah tidak bisa dicuci.
(*)
Editor : Rusmin








