Sinergi atau Subordinasi? Ketika Pers Terlalu Nyaman dengan Kekuasaan

Monday, 30 March 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rusmin

“Pers yang terlalu dekat dengan kekuasaan, cepat atau lambat, akan lupa cara menggonggong”

”Kata “sinergi” terdengar indah sekali. Seolah-olah media dan pemerintah berjalan beriringan, bahu-membahu demi kepentingan publik. Tidak ada gesekan, tidak ada ketegangan—semuanya harmonis. Tapi justru di situlah letak bahayanya.

Dalam demokrasi yang sehat, hubungan pers dan kekuasaan tidak boleh terlalu nyaman. Harus ada jarak yang dijaga. Harus ada ketegangan yang dipelihara. Karena tanpa itu, yang lahir bukan sinergi, melainkan subordinasi—pers yang tunduk, bukan yang mengawasi.

Dari Pengawas Menjadi Penyampai Pesan

Fungsi pers itu sederhana namun suci: mengawasi kekuasaan. Namun ketika “sinergi” dimaknai sebagai kerja sama tanpa gesekan sedikit pun, peran itu bergeser pelan-pelan. Dari watchdog menjadi loudspeaker. Dari pengkritik menjadi penyampai rilis resmi. Dari pencari fakta menjadi pengemas narasi humas.

Pers tidak lagi bertanya, “Apa yang salah?”
Ia malah sibuk memastikan, “Bagaimana supaya yang disampaikan terlihat benar?”
Ini bukan evolusi. Ini pembangkangan terhadap kodrat pers.

Jejak Ketergantungan yang Tak Terlihat

Subordinasi tidak datang tiba-tiba. Ia merayap melalui tiga jalur yang halus:Ketergantungan anggaran
Belanja iklan pemerintah menjadi napas bagi banyak media. Di titik ini, satu kritik saja terasa mahal.

Akses eksklusif.
Media yang “dekat” lebih mudah mendapat informasi. Tapi akses itu selalu datang dengan harga: jangan mengkritik.

Relasi personal
Jurnalis dan pejabat semakin akrab. Batas profesional kabur. Kritik terasa seperti “mendurhakai” ibu kandung.

Di sinilah sinergi berubah wujud: bukan lagi hubungan setara, melainkan relasi yang timpang—di mana pers menjadi bawahan yang harus sopan terhadap atasan.

Narasi Tunggal: Ancaman bagi Demokrasi

Tanda paling nyata dari subordinasi adalah hilangnya keberagaman sudut pandang.

BACA JUGA  Transformasi Satgas MBG Lampung Jadi Gerakan Hukum Terpadu?

Ketika banyak media:
• memakai framing yang sama,
• mengutip sumber yang itu-itu saja,
• menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tajam, maka publik tidak lagi mendapat informasi. Yang ia terima hanyalah reproduksi narasi resmi. Dan ketika narasi hanya datang dari satu arah, demokrasi mulai kehabisan oksigen.

Bukan Sekadar Idealisme, Ini Hak Publik. Masalah ini bukan soal romantisme profesi jurnalis semata. Ini soal hak rakyat untuk tahu kebenaran.

Ketika pers terlalu lunak:
• kebijakan bermasalah lolos tanpa pengawasan,
• kesalahan kekuasaan tak pernah terungkap,
• publik kehilangan alat kontrol yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, yang rusak bukan hanya kredibilitas media—tapi kepercayaan masyarakat terhadap informasi itu sendiri.

Sinergi yang Sehat: Dekat Akses, Jauh Sikap. Bukan berarti pers harus bermusuhan dengan pemerintah. Itu pun keliru.

Relasi yang ideal sederhana, tapi sangat sulit dijaga: Akses terbuka, tapi tidak dibungkam.
Komunikasi lancar, tapi tidak dikendalikan.
Kedekatan profesional, tapi bukan kedekatan kepentingan.

Atau, dengan bahasa yang lebih lugas: Tidak boleh makan sepiring bersama,

“Pers boleh duduk satu meja dengan kekuasaan, tapi tidak boleh makan dari piring yang sama.”

Ujian Sejati Ada di Saat Sulit

Sinergi mudah dilakukan ketika segalanya baik-baik saja. Independensi baru benar-benar diuji saat:
ada skandal besar,
ada kebijakan kontroversial,
ada tekanan langsung dari kekuasaan.

Di saat itulah pers harus memilih:
tetap menjadi pengawas, atau berubah menjadi pelindung?Karena pada akhirnya: Pers yang terlalu nyaman dengan kekuasaan bukan lagi pilar demokrasi—
melainkan bagian dari sistem yang seharusnya ia awasi.

Jurnalis yang terhormat,
Ingatlah selalu:
Anda bukan juru bicara kekuasaan.
Anda adalah suara rakyat. Jika Anda lupa menggonggong, siapa lagi yang akan menggonggong untuk kebenaran?

(*)

BACA JUGA  Bukit Aslan: Pesona Wisata yang Terancam oleh Kelalaian Regulasi

Berita Terkait

Media Massa sebagai Arena Pertarungan antara Public Relations dan Public Opinion
Lima Ayat yang Menjelaskan Tuhan: Membaca Tauhid dalam Struktur Al-Qur’an melalui Pendekatan Tematik
Golkar Lampung Tengah: Kepentingan Kader Terabaikan, Potensi Konflik di Balik Penunjukan Plt
Meremehkan Diri Sendiri dan Hobi Mengeluh Dengan Semua Orang adalah Cara Halus untuk Gagal
Akibat Kemiskinan & Cuci Uang Para Koruptor
Berpikir Berbeda adalah Awal dari Keunggulan
Gagal Pers: Krisis Jantung Demokrasi Indonesia yang Harus Segera Diobati
Perusahaan Pers Profesional: Kunci Kesejahteraan Wartawan dan Independensi Jurnalistik

Berita Terkait

Monday, 30 March 2026 - 00:00 WIB

Sinergi atau Subordinasi? Ketika Pers Terlalu Nyaman dengan Kekuasaan

Monday, 16 March 2026 - 00:30 WIB

Media Massa sebagai Arena Pertarungan antara Public Relations dan Public Opinion

Monday, 9 March 2026 - 01:17 WIB

Lima Ayat yang Menjelaskan Tuhan: Membaca Tauhid dalam Struktur Al-Qur’an melalui Pendekatan Tematik

Sunday, 25 January 2026 - 04:54 WIB

Golkar Lampung Tengah: Kepentingan Kader Terabaikan, Potensi Konflik di Balik Penunjukan Plt

Sunday, 25 January 2026 - 01:02 WIB

Meremehkan Diri Sendiri dan Hobi Mengeluh Dengan Semua Orang adalah Cara Halus untuk Gagal

Berita Terbaru