Heboh Film Dokumenter ‘Pesta Babi’, Mengapa Salah Satu Tokoh Utamanya Malah Merasa Dijebak?

Sunday, 24 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dinamika baru muncul setelah salah satu tokoh yang terlibat, Yasinta, melempar pernyataan kontroversial bahwa dirinya merasa

Dinamika baru muncul setelah salah satu tokoh yang terlibat, Yasinta, melempar pernyataan kontroversial bahwa dirinya merasa "dibohongi" dan "dijebak" agar masuk ke dalam film tersebut/ video media sosial (tangkapan layar)

Bongkar Post | JAKARTA – Gelombang polemik menyelimuti perilisan [film dokumenter Pesta Babi] karya sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale. Di tengah riuh pembubaran agenda nonton bareng (nobar) oleh aparat di berbagai daerah, dinamika baru muncul setelah salah satu tokoh yang terlibat, Yasinta, melempar pernyataan kontroversial bahwa dirinya merasa “dibohongi” dan “dijebak” agar masuk ke dalam film tersebut.
Isu ini seketika membelah opini publik antara pihak yang mengkritik kredibilitas etik pembuatan dokumenter investigatif tersebut, dengan kelompok masyarakat sipil yang tetap berfokus pada substansi perampasan hak atas tanah adat di Papua.

Klaim “Dijebak” oleh Tokoh Yasinta

Pernyataan Yasinta, seorang aktivis lokal yang wajahnya terekam dalam visualisasi perlawanan masyarakat adat di Papua Selatan, memicu perdebatan mengenai transparansi proses informed consent (persetujuan atas kesadaran penuh) dalam jurnalisme investigasi. Yasinta secara terbuka menyatakan bahwa arah dan kemasan akhir film Pesta Babi tidak sesuai dengan informasi awal yang disampaikan oleh tim produksi saat proses pengambilan gambar di lapangan. Ia mengaku tidak mengetahui bahwa narasinya akan dibingkai dalam judul dan konsep yang dianggap memicu provokasi sosial-keagamaan di ruang publik.
Tudingan ini langsung direspons secara beragam oleh pengamat media dan netizen. Di satu sisi, kelompok kritikus menilai jika pengakuan Yasinta terbukti benar, maka hal tersebut mencederai kode etik dokumenter yang mewajibkan kejelasan hak narasumber. Di sisi lain, para pendukung film Pesta Babi menduga adanya tekanan eksternal atau miskomunikasi teknis mengingat situasi lapangan di Papua Selatan yang berada di bawah pengawasan ketat aparat keamanan.

Latar Belakang dan Data Pro-Kontra

Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita memiliki durasi 95 menit dan merupakan hasil kolaborasi dari sejumlah lembaga terkemuka, seperti, Watchdoc Documentary, Greenpeace Indonesia, LBH Papua Merauke, dan Yayasan Pusaka Bentala Rakyat. Judul film ini diambil dari tradisi awon atatbon milik suku Muyu, di mana babi menjadi simbol sakral dalam menentukan batas wilayah adat.
Berikut adalah peta perdebatan instansi dan aktor negara terkait peredaran film ini:

BACA JUGA  Bongkar Sensus Ekonomi 2026: Harapan Transformasi vs Realitas Kesenjangan Data

Pihak Penolak dan Aparat Lapangan: Menyoroti judul serta poster film yang menampilkan visualisasi salib merah dan babi sebagai hal yang sensitif dan berpotensi memicu gesekan SARA. Sedikitnya terdapat 30 titik agenda nobar di berbagai daerah yang dibubarkan atau dibatalkan karena alasan perizinan dan ketertiban umum.

Pernyataan Menko Hukum dan HAM: Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak pernah mengeluarkan instruksi resmi untuk melarang pemutaran film tersebut. Menurutnya, pemerintah justru dapat memetik pelajaran dari film ini untuk mengevaluasi kebijakan di lapangan.

Sikap Menteri HAM: Menteri HAM Natalius Pigai menekankan bahwa pembatasan sebuah karya seni atau film tidak boleh dilakukan secara sepihak tanpa adanya ketetapan undang-undang atau keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Substansi Isu yang Berusaha Ditampilkan

Terlepas dari pro-kontra penamaan judul dan klaim dari tokoh Yasinta, film ini secara objektif merekam suara masyarakat adat dari suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu di Merauke, Boven Digoel, serta Mappi. Dokumenter ini menyoroti pembukaan lahan hutan adat seluas 2,5 juta hektare yang dialokasikan bagi Proyek Strategis Nasional (PSN) ketahanan pangan (food estate), tebu, serta industri bioenergi sawit.
Hingga berita ini diturunkan, film Pesta Babi telah resmi dirilis secara online di YouTube melalui enam kanal kolaborator setelah melewati masa pemutaran mandiri (roadshow nobar) selama 40 hari yang berhasil mengumpulkan lebih dari 11.000 permintaan pemutaran layar. Respons publik kini bergeser dari sekadar polemik pembubaran acara fisik, menjadi diskusi digital berskala nasional mengenai kebebasan berekspresi, hak masyarakat adat Papua, serta akuntabilitas etik para pembuat film dokumenter investigasi.
(***)

BACA JUGA  Cekcok di Kafe Berujung Maut, Oknum TNI Tembak Sesama Prajurit di Palembang

Penulis : Rusmin

Editor : Bongkar Post

Berita Terkait

Tragedi Katibung: Jasad Anak Berbalut Surat Wasiat dan Hilangnya Mata Pemerintah Daerah
Jual Nama Polda Lampung, Debi Putri Anggraeni Tipu Anak Mantan Waka DPRD Bandar Lampung
Presiden Prabowo Puji Kritik Keras PDIP dalam Sidang KEM-PPKF di DPR RI
KSAD Tegaskan Tidak Ada Instruksi TNI AD Bubarkan Nobar Film “Pesta Babi”
Cekcok di Kafe Berujung Maut, Oknum TNI Tembak Sesama Prajurit di Palembang
Presiden Salurkan 16 Sapi Kurban Banmas untuk Lampung, Bobot Tembus 1 Ton
Sinyal Perang terhadap Kejahatan Jalanan, Kapolda Lampung: Pelaku Begal Tembak di Tempat!
Pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing: Babak Baru Kerja Sama Dagang AS-RRT dan Sinyal Damai Industri Teknologi

Berita Terkait

Sunday, 24 May 2026 - 05:08 WIB

Heboh Film Dokumenter ‘Pesta Babi’, Mengapa Salah Satu Tokoh Utamanya Malah Merasa Dijebak?

Saturday, 23 May 2026 - 16:13 WIB

Tragedi Katibung: Jasad Anak Berbalut Surat Wasiat dan Hilangnya Mata Pemerintah Daerah

Friday, 22 May 2026 - 04:40 WIB

Jual Nama Polda Lampung, Debi Putri Anggraeni Tipu Anak Mantan Waka DPRD Bandar Lampung

Wednesday, 20 May 2026 - 07:30 WIB

KSAD Tegaskan Tidak Ada Instruksi TNI AD Bubarkan Nobar Film “Pesta Babi”

Sunday, 17 May 2026 - 11:35 WIB

Cekcok di Kafe Berujung Maut, Oknum TNI Tembak Sesama Prajurit di Palembang

Berita Terbaru

E-Paper

LAGI, Jembatan Gantung Tak Layak Pakai, Pemerintah Cuek

Sunday, 24 May 2026 - 18:13 WIB

E-Paper

Walikota Bandar Lampung Minta OPD Berinovasi Berbasis Digital

Thursday, 21 May 2026 - 00:31 WIB