Warga Grebek Dugaan Praktik Ilegal “Ngecor” BBM di SPBU Sri Menanti

Monday, 17 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SPBU Sri Menanti Bandar Sribhawono/foto.IST

SPBU Sri Menanti Bandar Sribhawono/foto.IST

Mafia Solar Mengintai di Tengah Kelangkaan: Praktik Ilegal yang Melumpuhkan Ekonomi Lampung                         

Lampung, – Sebuah truk (engkel) bernomor polisi BE 8542… menjadi pusat kegaduhan di SPBU Srimenanti, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, dini hari Senin (17/11). Warga yang curiga terhadap praktik “ngecor” – istilah lokal untuk pengisian bahan bakar minyak (BBM) secara ilegal – akhirnya menggerebek kendaraan itu. Tangki truk yang dimodifikasi ternyata sedang diisi solar bersubsidi, diduga bagian dari jaringan mafia BBM yang telah lama menjadi biang kerok kelangkaan. Insiden ini bukan sekadar kejadian sporadis; ia mencerminkan pola sistemik yang merugikan masyarakat, di mana kuota solar nasional 2025 sebesar 802.204 kiloliter tampaknya tak pernah mencapai tangan yang tepat. Kelangkaan solar sejak awal November 2025 bukan fenomena baru bagi Lampung, provinsi agraris dan maritim yang bergantung pada BBM subsidi untuk transportasi, perikanan, dan pertanian. Menurut Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Fatikhatul Khoiriyah, antrean panjang di SPBU bukan hanya soal peningkatan permintaan musiman akhir tahun – seperti yang dijelaskan Pertamina – melainkan indikasi kuat adanya penyelewengan distribusi.

“Ini menghambat perputaran ekonomi secara luas, dari nelayan yang tak bisa melaut hingga petani yang kesulitan mengolah lahan,” ujarnya. Data dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menunjukkan bahwa konsumsi solar nasional melonjak 15-20% menjelang akhir tahun, tetapi di Lampung, kuota yang seharusnya aman justru sering “habis” lebih awal, memicu spekulasi penimbunan.                                                                                   

BACA JUGA  Diduga Jadi "Bancakan", Aliansi LSM Soroti Puluhan Miliar Anggaran BKKBN Lampung

Konteks Kelangkaan: Antara Kuota Aman dan Realitas Lapangan. Secara historis, kelangkaan solar di Indonesia sering muncul di akhir tahun, dipicu oleh lonjakan permintaan dari sektor industri, logistik, dan pertanian. Pertamina, melalui Corporate Communication Manager Taufiq Rafiq, menegaskan bahwa yang terjadi bukan “kelangkaan” dalam arti kekosongan stok akibat gangguan distribusi, melainkan “peningkatan permintaan” yang wajar.

“Gangguan seperti bencana alam atau kerusuhan bisa menyebabkan krisis sungguhan, tapi saat ini, frekuensi pembelian yang naik justru menimbulkan antrean,” katanya. Namun, di Lampung, narasi ini bertabrakan dengan keluhan masyarakat. Sejak 1 November, ratusan nelayan di Lampung Selatan dan Timur terpaksa berhenti melaut, sementara petani di Lampung Tengah kesulitan mengoperasikan traktor dan pompa irigasi. Di tingkat nasional, pola serupa terlihat di Sulawesi Utara dan Riau, di mana Gubernur Olly Tenry Sualehy bahkan mengancam tangkap “mafia solar” untuk mengatasi antrean panjang.

Konteks lebih dalam terletak pada subsidi BBM yang salah sasaran. Menteri Keuangan:–  kala dijabat oleh Sri Mulyani Indrawati pernah menyatakan bahwa hingga 90% subsidi solar jatuh ke tangan industri besar seperti tambang dan sawit, bukan petani kecil atau nelayan.

Di Lampung, kuota 2025 yang ditetapkan pemerintah seharusnya mencukupi, tapi dugaan penimbunan membuatnya menguap. Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menduga adanya “oligarki” di balik ini, di mana BBM subsidi dialihkan ke pasar gelap untuk keuntungan ratusan ribu rupiah per kiloliter.

Analisis Dampak: Jeritan dari Pesisir dan Sawah. Dampak kelangkaan ini tak terbatas pada antrean; ia merembet ke rantai pasok ekonomi. Bagi nelayan, seperti di Wotu, Luwu Timur, Sulawesi Selatan – yang mirip kondisi Lampung – aktivitas penangkapan ikan lumpuh selama berminggu-minggu, menyebabkan penurunan pendapatan hingga 70%.

Di Minahasa Tenggara, harga pertalite eceran melonjak ke Rp 18.000 per liter, memaksa nelayan bergantung pada pinjaman atau tabungan yang menipis.

“Solar kosong berarti kami tak bisa melaut, dan keluarga tak bisa makan,” keluh Randy, seorang nelayan di Ratatotok. Petani Lampung menghadapi nasib serupa. Mesin pengolah tanah dan truk pengangkut panen terhenti, menyebabkan hasil panen menumpuk dan rusak. Di Lampung Tengah, biaya tambahan untuk solar eceran bisa mencapai 30-50% lebih tinggi, memperburuk kemiskinan pedesaan.

Secara makro, ini memperlambat PDB provinsi yang bergantung pada pertanian (sekitar 15% dari total ekonomi Lampung). Protes massal nelayan dan petani ke DPRD, seperti yang terjadi di Tuban dan Aceh Utara, menunjukkan potensi konflik sosial jika tak ditangani.

BACA JUGA  TKD Dipangkas Rp 580 Miliar, Belanja OPD Kena Imbas
Praktik Ilegal: Dari Gudang Tersembunyi hingga “Ngecor” Malam Hari                                                                       

Praktik mafia BBM di Lampung tak asing: penimbunan di gudang ilegal, modifikasi tangki truk, dan kolusi dengan oknum SPBU. Insiden SPBU Srimenanti adalah contoh nyata. Warga melihat truk  (engkel) terparkir di SPBU yang sudah tutup pukul 00.05 WIB, dengan kepala tangki ditutup terpal untuk menyamarkan aktivitas. Setelah digerebek, pengemudi dibawa ke Polsek Bandar Sribhawono. Selanjutnya barang bukti berikut dua orang supir truk diserahkan ke Polres Lampung Timur oleh warga. Dalam Video amatir yang beredar di media sosial menunjukkan selang transfer BBM dan peralatan modifikasi, mirip kasus di Tanggamus tahun 2023 di mana Kejari membongkar gudang dengan 49 ribu liter solar tersimpan.

Pola ini sistematis. Di Karawang, polisi curiga operator SPBU terlibat membeli solar subsidi secara berulang untuk dijual kembali. Di Manggarai, NTT, bahkan oknum polisi diduga ikut penimbunan.

Keuntungan? Harga solar subsidi Rp 6.800 per liter bisa dijual eceran hingga Rp 10.000-12.000, dengan margin hingga Rp 5.000 per liter. Di Sumsel dan Babel, gudang karung timah penuh solar menunggu ekspor ilegal.

Kritik Objektif: Pengawasan Longgar, Tapi Upaya Mulai Terlihat. Kritik utama mengarah pada lemahnya pengawasan antarinstansi. DPRD Lampung menyoroti kurangnya koordinasi antara Pertamina, polisi, dan BPH Migas, yang memungkinkan mafia beroperasi.

“Kuota aman, tapi distribusi salah sasaran – ini bukan murni permintaan, tapi penyelewengan,” tegas Fatikhatul. Pengamat seperti Fahmy Radhi menambahkan, oligarki BBM memanfaatkan subsidi untuk industri, sementara rakyat kecil menanggung akibatnya.

Namun, untuk tetap objektif, catat bahwa Polda Lampung telah menggerebek penimbun di masa lalu, menyita ribuan liter. Pertamina juga klaim terus pantau stok, meski tantangan cuaca dan permintaan akhir tahun memperburuk situasi.

Menuju Solusi: Tindakan Tegas atau Krisis Berkepanjangan? Insiden Srimenanti menjadi panggilan bagi pemerintah untuk reformasi. DPRD Lampung mendorong kolaborasi lintas lembaga, termasuk audit kuota dan penindakan tegas terhadap oknum.

Jika dibiarkan, kelangkaan ini berpotensi mengganggu swasembada pangan dan perikanan nasional menjelang 2026. Seperti kata Gubernur Sulut YSK, “Ini soal ekonomi yang tertahan – mafia harus dihajar.”

Hanya dengan transparansi dan penegakan hukum yang konsisten, solar subsidi bisa kembali menjadi penopang, bukan beban, bagi rakyat Lampung. Kontribusi warga melalui media sosial menjadi kunci pengungkapan insiden ini.

BACA JUGA  Pidato Gibran di KTT G20 Dipuji Publik: Sorot Bahasa Inggris dan Gestur Kepal Tangan
Hingga berita ini diturunkan, Polres Lampug Timur belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut, meskipun pengemudi truk telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
(*)

Editor : MR Masjudin

Berita Terkait

Aktivis Desak Pencopotan Manajer Kebun Marihat Pasca-Insiden Penembakan Brutal
Pola yang Muncul Akibat Anomali Sistem: Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat
Polairud Lampung Rayakan HUT ke‑75 dengan Doa untuk Korban Bencana Aceh, Sumut & Sumbar
Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Pembangunan Perpustakaan Lampung Utara Tahap 2
Tragedi Banjir Bandang Sumatera Utara: Deforestasi Masif Kembali Disorot, Wawancara Harrison Ford 2013 Viral Lagi
Dugaan Korupsi Proyek Irigasi Rp 37,8 Miliar di Lampung Selatan: Material Bekas Jadi Sorotan
Bank Indonesia Lampung Gelar Capacity Building Jurnalistik bersama Tempo Institute – Tingkatkan Kualitas Penulisan Jurnalis
Studio 21 Pematangsiantar: Antara Penggerebekan Narkoba dan Dugaan Pembiaran, Masyarakat Menuntut Penindakan Tegas

Berita Terkait

Saturday, 6 December 2025 - 07:22 WIB

Aktivis Desak Pencopotan Manajer Kebun Marihat Pasca-Insiden Penembakan Brutal

Wednesday, 3 December 2025 - 09:20 WIB

Pola yang Muncul Akibat Anomali Sistem: Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat

Monday, 1 December 2025 - 11:06 WIB

Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Pembangunan Perpustakaan Lampung Utara Tahap 2

Sunday, 30 November 2025 - 17:52 WIB

Tragedi Banjir Bandang Sumatera Utara: Deforestasi Masif Kembali Disorot, Wawancara Harrison Ford 2013 Viral Lagi

Thursday, 27 November 2025 - 05:54 WIB

Dugaan Korupsi Proyek Irigasi Rp 37,8 Miliar di Lampung Selatan: Material Bekas Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Ilustrasi.foto dok BP

Editorial Opini

Sawit atau Suara Rakyat? Banjir Sumatera Mengungkap Krisis Bencana Nasional

Saturday, 6 Dec 2025 - 03:29 WIB