Hoaks AI Seret Nama Seskab, Qodari Buka Suara dari Jakarta: Singgung Amien Rais hingga Isu Teddy

Monday, 4 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

photo: Dok.Istimewa

photo: Dok.Istimewa

Bongkar Post | Jakarta — Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, akhirnya angkat bicara soal maraknya hoaks berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mulai menyeret nama tokoh publik. Pernyataan itu disampaikannya di Jakarta, merespons konten viral yang beredar di media sosial sejak awal April 2026.

Qodari menilai, gelombang disinformasi berbasis AI kini masuk fase berbahaya. Bukan sekadar manipulasi biasa, tetapi sudah mampu membentuk persepsi publik dengan narasi yang tampak meyakinkan.

“Ini bukan lagi hoaks konvensional. AI bisa memproduksi konten yang sulit dibedakan dari fakta,” tegasnya.

Dalam sorotannya, Qodari menyinggung pernyataan Amien Rais yang ikut terseret dalam pusaran isu tersebut. Amien sebelumnya dikaitkan dengan narasi video “Aku Bukan Teddy” yang ramai di media sosial dan memicu spekulasi liar.

Isu itu kemudian merembet ke Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, termasuk tuduhan terkait orientasi seksual yang beredar tanpa dasar yang jelas. Bahkan, muncul desakan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk mengganti posisi Seskab.

Qodari menegaskan, pola serangan semacam ini bukan hal baru—hanya kemasannya yang berubah mengikuti perkembangan teknologi.

“Dulu pakai isu biasa, sekarang dibungkus AI. Tapi substansinya sama: menyerang tanpa bukti,” ujarnya.

Ia menekankan, hingga kini tidak ada bukti valid maupun klarifikasi resmi yang menguatkan tuduhan terhadap Teddy. Karena itu, publik diminta tidak terpancing oleh konten viral yang belum terverifikasi.

Lebih jauh, Qodari menyebut fenomena ini sebagai ancaman serius terhadap ruang publik dan demokrasi. Ia mendorong penguatan literasi digital serta penindakan tegas terhadap penyebar hoaks.

“Kalau dibiarkan, ini bisa jadi alat pembunuhan karakter yang sistematis,” tandasnya.

Kasus ini menjadi alarm keras: di era AI, kebenaran bisa dipelintir dalam hitungan detik—dan siapa pun bisa jadi target berikutnya.
*

BACA JUGA  18 Pernyataan Purbaya: Manifesto Reformasi Fiskal atau Retorika yang Berisiko Polarisasi?

Penulis : Rusmin

Editor : Bongkar Post

Berita Terkait

Pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing: Babak Baru Kerja Sama Dagang AS-RRT dan Sinyal Damai Industri Teknologi
Kekayaan Presiden Prabowo Tembus Rp2,066 Triliun, Naik Rp4 Miliar dari Laporan Sebelumnya
Memutus Nadi Begal Bukan dengan Peluru, Tapi Menghancurkan Pasar Penadah
Jejak Keberanian di Jalan ZA Pagar Alam: Menjemput Fajar, Menitipkan Kehormatan
Tragedi Muratara dan Rapuhnya Rantai Keselamatan Transportasi Nasional
Diskusi Perlindungan Ojol di Lampung: Rumuskan Usulan hingga Petisi Bersama
Pengacara Arinal Djunaidi Gelar Konferensi Pers di Bandar Lampung, Tegaskan Tidak Ada Kerugian Negara dari Dana PI 10%
Relawan Dapur MBG di Lampung Utara Keluhkan Pemberhentian Sepihak, Minta Keadilan

Berita Terkait

Thursday, 14 May 2026 - 11:37 WIB

Pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing: Babak Baru Kerja Sama Dagang AS-RRT dan Sinyal Damai Industri Teknologi

Saturday, 9 May 2026 - 18:34 WIB

Memutus Nadi Begal Bukan dengan Peluru, Tapi Menghancurkan Pasar Penadah

Saturday, 9 May 2026 - 17:09 WIB

Jejak Keberanian di Jalan ZA Pagar Alam: Menjemput Fajar, Menitipkan Kehormatan

Friday, 8 May 2026 - 07:04 WIB

Tragedi Muratara dan Rapuhnya Rantai Keselamatan Transportasi Nasional

Tuesday, 5 May 2026 - 11:18 WIB

Diskusi Perlindungan Ojol di Lampung: Rumuskan Usulan hingga Petisi Bersama

Berita Terbaru

Nobar film dokumenter

Bandarlampung

Nobar Film “Pesta Babi” di Bandar Lampung Tuai Ragam Tanggapan Peserta

Wednesday, 13 May 2026 - 18:04 WIB

Photo.Dok Istimewa

Breaking News

Saya Disini Hakimnya, Pak!

Wednesday, 13 May 2026 - 10:19 WIB