Seorang anak kecil yang menangis di samping jenazah ayahnya. Bukan karena ayahnya koruptor. Tapi karena ayahnya dituduh mencuri seekor ayam
Bongkar Post | TABANAN — Seekor ayam aduan. Hanya itu. Tapi nyawa seorang ayah tiga anak harus hilang.
Pria berinisial KD, warga Desa Sidatapa, Buleleng, tewas dikeroyok massa di Baturiti, Tabanan, pada Jumat (24/7) dini hari. Ia dituduh mencuri ayam aduan. Sepeda motornya dibakar. Jenazahnya ditinggalkan bersama tangis putri bungsunya yang viral di media sosial. Sementara itu, di tempat lain, orang-orang yang mencuri triliunan rupiah uang rakyat masih bisa berjalan santai, tersenyum di depan kamera, bahkan duduk di kursi kekuasaan.
Inilah wajah keadilan yang timpang di negeri ini.
Ketika seseorang dicurigai mengambil seekor ayam, massa bisa langsung berubah menjadi hakim, jaksa, sekaligus algojo. Tidak ada sidang. Tidak ada pembelaan. Tidak ada proses hukum. Yang ada hanya amarah yang meledak, pukulan, dan api. Hukum diganti dengan emosi kolektif. Hasilnya: satu nyawa melayang, satu keluarga hancur, dan satu video tangisan anak yang membuat siapa pun terdiam.
Bandingkan dengan para “maling uang rakyat”. Mereka yang mengeruk anggaran pembangunan, memanipulasi proyek, atau menyunat dana bantuan. Jumlahnya bukan seekor ayam, melainkan miliaran hingga triliunan rupiah. Uang yang seharusnya untuk sekolah, jalan, rumah sakit, atau bantuan sosial. Tapi reaksi publik dan sistem hukum sering kali jauh lebih lembut.
Banyak di antara mereka hanya diganjar hukuman ringan, bahkan bisa bebas bersyarat. Ada yang masih bisa berkampanye. Ada yang masih bisa berbisnis. Ada yang masih bisa tersenyum di depan wartawan sambil mengatakan “saya tidak bersalah”. Proses hukumnya panjang, berliku, penuh celah, dan sering kali berakhir dengan kesepakatan atau vonis yang tidak sebanding dengan kerugian negara.
Di satu sisi, pencuri ayam dihukum mati oleh massa dalam hitungan jam. Di sisi lain, pencuri uang rakyat bisa bernegosiasi dengan sistem selama bertahun-tahun.
Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan: kenapa nyawa manusia lebih murah daripada uang negara?
Jawaban yang sering muncul adalah “karena rakyat sudah muak”. Muak dengan ketidakadilan, muak dengan korupsi yang tidak pernah tuntas, muak dengan hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Ketika sistem gagal memberi rasa keadilan, masyarakat kemudian menciptakan “keadilan” sendiri. Sayangnya, keadilan jalanan itu selalu menargetkan yang lemah. Yang tidak punya koneksi. Yang tidak punya uang. Yang hanya dituduh mencuri ayam.
Sementara yang benar-benar menggerogoti negara justru sering lolos dari amuk massa. Mereka dilindungi tembok kantor, pengacara mahal, dan jaringan kekuasaan. Mereka tidak pernah berdiri sendirian di tengah kerumunan yang marah.
Video tangisan anak KD seharusnya tidak hanya membuat kita terharu. Ia harus membuat kita marah. Marah karena sistem hukum kita gagal melindungi warga dari kekerasan massa, sekaligus gagal menghukum mereka yang merampok uang publik. Marah karena kita lebih cepat menghakimi orang miskin yang dicurigai mencuri seekor ayam, ketimbang orang berkuasa yang terbukti mencuri masa depan anak-anak bangsa.
Keadilan yang sejati bukan soal siapa yang lebih cepat dihukum. Melainkan soal siapa yang harus bertanggung jawab, berapa besar kerugian yang ditimbulkan, dan seberapa setara hukum diterapkan.
Selama pencuri ayam bisa dibunuh di jalanan sementara pencuri uang rakyat masih bisa tersenyum di ruang sidang, selama itu pula kita belum punya keadilan. Yang kita punya hanyalah kemarahan selektif dan sistem yang pincang.
Dan di tengah semua itu, ada seorang anak kecil yang menangis di samping jenazah ayahnya. Bukan karena ayahnya koruptor. Tapi karena ayahnya dituduh mencuri seekor ayam.
Penulis : Rusmin
Editor : Redaksi









