Pola yang Muncul Akibat Anomali Sistem: Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat

Wednesday, 3 December 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

foto.digest forest/tangkapan layar

foto.digest forest/tangkapan layar

Hujan lebat yang dipicu siklon tropis Senyar pada akhir November 2025 menumbuk wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, memicu banjir bandang serta longsor yang menelan korban ratusan jiwa. Para ahli mengidentifikasikan fenomena ini bukan sekadar kebetulan cuaca, melainkan pola yang muncul dari anomali sistem khususnya deforestasi masif yang mengubah fungsi hidrologi daerah aliran sungai (DAS).

Apa Itu Anomali Sistem? Anomali sistem merujuk pada perubahan struktural dalam suatu sistem yang mengganggu keseimbangan alaminya. Dalam konteks ini, penebangan hutan secara massif mengurangi kemampuan tanah menyerap air, mempercepat limpasan, dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

Data deforestasi: Lebih dari 1,6 juta hektar hutan di Sumatera Utara hilang sejak 2001 (Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup).

Pengaruh iklim: Siklon tropis Senyar menambah curah hujan hingga 300 mm per hari, melampaui ambang batas historis.

Pola yang Muncul Bencana November 2025 tidak berdiri sendiri. Analisis citra satelit dan laporan BPBD menunjukkan pola berulang: setiap tahun, daerah dengan tingkat deforestasi tinggi mengalami peningkatan frekuensi banjir bandang dan longsor. Kehilangan tutupan hutan → penurunan infiltrasi air Tanah menjadi jenuh → aliran permukaan meningkat Erosi lereng → longsor

Pola ini terlihat di tiga provinsi sekaligus, menandakan bahwa anomali sistem telah menyebar secara lintas wilayah

Suara Pakar: “Deforestasi bukan sekadar masalah lingkungan; ia mengubah dinamika air di seluruh DAS. Ketika hutan hilang, tanah tidak lagi berfungsi sebagai spons alami,” ujar Dr. Rina Putri, ahli hidrologi dari Universitas Sumatera Utara.

“Kami sudah memperingatkan sejak 2018 bahwa moratorium penebangan di hulu DAS sangat krusial. Tanpa tindakan, pola bencana ini akan terus berulang,” tambah Prof. Ahmad Syaiful, peneliti iklim di LIPI.

BACA JUGA  Roy Suryo Cs Diperiksa Sebagai Tersangka Kasus Tuduhan Ijazah Palsu Jokowi di Polda Metro Jaya

 

Respons Pemerintah dan Kemanusiaan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 753 jiwa meninggal dunia dan 650 jiwa dinyatakan hilang pada penanganan darurat banjir dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Penambahan jumlah korban jiwa dan orang hilang tersebut didapat dari situs Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB), dilihat detikcom pada Rabu (3/12/2025), pukul 06.00 WIB.
Data Pusdatin BNPB juga mencatat ada sekitar 2.600 jiwa terluka, 3.600-an rumah rusak berat, 2.100-an rumah rusak sedang, dan 3.700-an rumah rusak ringan.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menegaskan akan terus berupaya dalam mencari korban, dukungan berbagai pihak terus mengalir agar operasi kemanusiaan ini dapat berjalan optimal hingga seluruh korban ditemukan.

Pemerintah mengirimkan paket logistik, tenda, dan layanan internet satelit Starlink untuk mempercepat koordinasi, BPBD bersama LSM menyiapkan perahu karet, dapur umum, dan posko kesehatan.

Kebijakan jangka panjang: Rencana penanaman kembali hutan (reforestasi) seluas 500 ribu hektar di wilayah terdampak, serta penegakan moratorium penebangan di daerah hulu DAS.

Pelajaran yang Bisa Ditarik?
Banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat menggambarkan pola yang muncul akibat anomali sistem. Deforestasi mengubah struktur tanah, memicu limpasan berlebih, dan memperparah dampak cuaca ekstrem. Tanpa intervensi yang tepat, pola ini akan terus berlanjut, mengancam nyawa dan mata pencaharian jutaan orang.

*)

Editor : MR Masjudin

Berita Terkait

Aktivis Desak Pencopotan Manajer Kebun Marihat Pasca-Insiden Penembakan Brutal
Polairud Lampung Rayakan HUT ke‑75 dengan Doa untuk Korban Bencana Aceh, Sumut & Sumbar
Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Pembangunan Perpustakaan Lampung Utara Tahap 2
Tragedi Banjir Bandang Sumatera Utara: Deforestasi Masif Kembali Disorot, Wawancara Harrison Ford 2013 Viral Lagi
Dugaan Korupsi Proyek Irigasi Rp 37,8 Miliar di Lampung Selatan: Material Bekas Jadi Sorotan
Bank Indonesia Lampung Gelar Capacity Building Jurnalistik bersama Tempo Institute – Tingkatkan Kualitas Penulisan Jurnalis
Studio 21 Pematangsiantar: Antara Penggerebekan Narkoba dan Dugaan Pembiaran, Masyarakat Menuntut Penindakan Tegas
DA Club 41 Reborn di Palembang: Antara Pembukaan Kembali dan Ancaman Penutupan

Berita Terkait

Saturday, 6 December 2025 - 07:22 WIB

Aktivis Desak Pencopotan Manajer Kebun Marihat Pasca-Insiden Penembakan Brutal

Wednesday, 3 December 2025 - 09:20 WIB

Pola yang Muncul Akibat Anomali Sistem: Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat

Monday, 1 December 2025 - 11:06 WIB

Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Pembangunan Perpustakaan Lampung Utara Tahap 2

Sunday, 30 November 2025 - 17:52 WIB

Tragedi Banjir Bandang Sumatera Utara: Deforestasi Masif Kembali Disorot, Wawancara Harrison Ford 2013 Viral Lagi

Thursday, 27 November 2025 - 05:54 WIB

Dugaan Korupsi Proyek Irigasi Rp 37,8 Miliar di Lampung Selatan: Material Bekas Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Ilustrasi.foto dok BP

Editorial Opini

Sawit atau Suara Rakyat? Banjir Sumatera Mengungkap Krisis Bencana Nasional

Saturday, 6 Dec 2025 - 03:29 WIB