
Di tingkat lokal, PWI Lampung telah menjalin kemitraan strategis, seperti dengan Bank Mandiri Lampung untuk mendukung acara ini, yang mencakup uji kompetensi wartawan—sebuah langkah untuk standarisasi profesi di era di mana 70% konten berita diproduksi atau dipengaruhi AI. Pelatihan seperti ini krusial untuk membangun ketahanan terhadap “kecepatan buatan” AI yang sering kali mengorbankan akurasi demi viralitas. Acara ini juga mendapat dukungan kuat dari Pemerintah Provinsi Lampung. Pada 7 November 2025, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menerima audiensi PWI Lampung dan menyatakan komitmen untuk memperkuat kemitraan pemerintah-media, termasuk melalui rangkaian kegiatan pendidikan jurnalistik.
Agenda yang Relevan, tapi Terbatas pada Teori?
Secara struktural, Pekan Pendidikan Wartawan ini dirancang komprehensif. Agenda utama meliputi:
- 17 November: Uji Integritas Wartawan di Era AI – Diskusi dipimpin Ahmad Munir, fokus pada verifikasi fakta dan etika algoritma, sejalan dengan panduan Dewan Pers 2025 yang mewajibkan pengawasan manusia atas konten AI.
- 18-20 November: Pelatihan Jurnalistik Kontemporer – Termasuk workshop analisis data dan personalisasi konten, mirip dengan inisiatif nasional seperti Insight Talk Literasi Cerdas di Era AI oleh Kementerian Komdigi di NTB pada 13 November 2025, yang menekankan literasi AI bertanggung jawab.
- 21 November: Diskusi Ekonomi Media – Menyoroti tekanan pajak dan keberlanjutan, dengan Wirahadi Kusumah sebagai moderator.
Data terverifikasi dari situs resmi PWI Lampung (melalui audiensi Gubernur) menunjukkan partisipasi diharapkan mencapai 200 wartawan, dengan dukungan logistik dari Pemprov. Analisis awal menunjukkan potensi positif: acara ini bisa meningkatkan literasi AI di kalangan wartawan muda, seperti yang didorong oleh Teknokrat Unila pada 15 November 2025 melalui pelatihan jurnalisme advokasi.
Secara objektif, ini selaras dengan tren global, di mana 80% newsroom (Reuters Institute 2024) mengadopsi AI untuk efisiensi, tapi hanya 40% memiliki framework etis. Namun, analisis lebih dalam mengungkap ketergantungan pada narasumber pusat (seperti Munir), yang mungkin kurang kontekstual dengan isu Lampung seperti konflik lahan atau bencana alam yang sering diliput media lokal. Selain itu, integrasi AI dalam agenda lebih bersifat diskursif daripada praktis—tidak ada indikasi workshop hands-on seperti penggunaan tools deteksi deepfake, yang krusial mengingat 30% misinformasi di Indonesia berasal dari AI.
Meski patut diapresiasi, acara ini rentan kritik. Pertama, aksesibilitas: Sebagai kegiatan tatap muka di Bandar Lampung, wartawan dari kabupaten terpencil seperti Way Kanan atau Tulang Bawang mungkin kesulitan berpartisipasi, terutama tanpa subsidi transportasi yang disebutkan. Ini bertentangan dengan semangat inklusivitas PWI, di mana survei internal menunjukkan 50% wartawan daerah merasa terpinggirkan dari pelatihan pusat.
Ketiga, dari sudut pandang objektif, dukungan Gubernur patut diwaspadai. Meski positif, kemitraan pemerintah-media bisa menimbulkan konflik kepentingan, terutama di provinsi dengan isu korupsi yang sering diliput PWI : AI harus memperkaya kemanusiaan, bukan mengikisnya melalui pengaruh eksternal.
Langkah Maju, tapi Perlu Evolusi: Secara keseluruhan, Pekan Pendidikan Wartawan Lampung 2025 adalah inisiatif berharga yang menjawab urgensi adaptasi AI, dengan dukungan institusional yang solid. Namun, untuk objektivitas penuh, PWI Lampung perlu memperluas cakupan ke hybrid format dan evaluasi pasca-acara, agar tidak sekadar “benteng terakhir” etika seperti yang ditekankan Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria. Di era di mana AI bukan lagi ancaman tapi realitas—seperti diskusi literasi di NTB yang menarik 100 peserta—acara ini bisa menjadi model bagi provinsi lain jika dievolusi.
Editor : MR Masjudin










