Berpikir Berbeda adalah Awal dari Keunggulan

Monday, 12 January 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

**Pengantar Redaksi**

Tulisan ini mengajak pembaca berhenti sejenak dari kebiasaan menyalahkan pihak lain atas kegagalan hidup yang dirasakan. Di tengah hiruk-pikuk politik, narasi adu domba, dan kecenderungan mencari kambing hitam—termasuk dengan terus-menerus menunjuk tokoh atau keluarga tertentu—artikel ini menantang pembaca untuk berpikir berbeda: bahwa perubahan sejati justru lahir dari keberanian bercermin dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri.

Redaksi memandang gagasan dalam tulisan ini sebagai refleksi kritis tentang mentalitas, kedewasaan berpikir, dan kemandirian sikap warga dalam menghadapi realitas sosial-politik. Penulis menyoroti bagaimana emosi, ego, dan ketergantungan pada janji elite sering kali membuat seseorang terjebak sebagai penonton, alih-alih pelaku perubahan dalam hidupnya sendiri.

Lebih jauh, tulisan ini menegaskan pentingnya disiplin dan konsistensi dibanding sekadar mengikuti suasana hati atau gelombang opini publik. Dalam dunia yang penuh manipulasi simbol, gelar, dan jabatan, kejujuran pada diri sendiri serta kemampuan menjaga arah hidup menjadi fondasi utama ketangguhan pribadi.

Redaksi menyajikan tulisan ini sebagai bahan perenungan, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memantik kesadaran: bahwa keunggulan tidak lahir dari keluhan, dan masa depan tidak dibangun dari amarah, tetapi dari keberanian berpikir jernih, bertindak konsisten, dan menolak dikendalikan oleh narasi yang menjauhkan manusia dari tanggung jawab atas hidupnya sendiri.

**

Perubahan hidup tidak akan pernah datang dari keluhan, menyalahkan orang lain, apalagi dengan mengikuti tabuhan genderang para politikus & elit yg menggiring otak kamu untuk menyalahkan jokowi & keluarganya terus atas semua apa pun yg terjadi dinegeri ini.

Perubahan jauh lebih baik, daripada menyalahkan orang lain membuatmu merasa benar. Politikus hanyalah pencuri yg berbicara dengan bahasa yg lebih halus & jika kamu tidak waspada, mereka dengan segala caranya akan membuatmu mencintai orang yg menindas?

BACA JUGA  Lima Ayat yang Menjelaskan Tuhan: Membaca Tauhid dalam Struktur Al-Qur’an melalui Pendekatan Tematik

Ketika kamu sibuk menyalahkan orang lain karena kamu masih hidup susah, kamu sebenarnya sedang melindungi ego mu bukan memperbaiki keadaanmu. Kamu mungkin merasa lebih nyaman sesaat karena bisa melemparkan beban keluar diri, padahal masalahnya kamu masih ditempat yg sama. Akibatnya, hidupmu stagnan bukan karena tidak berubah, tapi karena kamu sendiri yg menolak belajar dari kesalahan. Dimana selama ini kamu hanya menjadi penonton dari pinggir lapangan & hanya berebut pepesan kosong?

Setiap kali kamu berkata, ” ini semua bukan salah saya,” kamu telah kehilngan banyak kesempatan & peluang2 yg datang untuk belajar, bagaimana caranya bisa merubah nasibmu & nasib masa depan anak2 & cucu2mu kelak. Padahal perubahan hanya datang dari orang yg berani berkata, ” saya bisa berbuat lebih baik lagi, & saya bisa lebih fokus & konsisten lagi dengan tujuan saya, & saya tidak akan ikut2an lagi tabuhan genderang adu domba yg ditabuh oleh para politikus & elit, padahal selama ini juga saya cuma jadi penonton saja tanpa ada politikus atau elit yg mau perduli dengan nasib saya, apalagi nasib anak2 & cucu saya kelak?

Di dunia nyata yg terus bertumbuh, agar kamu tidak mudah di manifulatip oleh para politikus & tuhan2 bertulang, kamu tidak cukup hanya dengan merasa yg paling pintar saja, tapi yg paling jujur terhadap dirinya sendiri. Begitu kamu berhenti menyalahakan orang lain, kamu mulai mengambil alih kendali. Hidupmu bukan lagi ditentukan oleh janji2 manis para politikus & para elit, tapi oleh pilihananmu, cara berpikirmu & tindakanmu sendiri.

Kebanyakan manusia yg lebih mengedepan ego nyo, ketika hidupnya tidak sesuai dengan rencananya, mereka punya kecenderungan mencari kambing hitam. Mereka menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, keadaan ekonomi, bahkan ada yg tambah asyik & terlena terus ikut2an menyalahkan Jokowi & keluarga atas semua apa pun yg terjadi dinegeri ini. Padahal semua itu karena kesalahan dia sendiri yg mau saja mengikuti tabuhan genderang yg ditabuh oleh para politikus & elit, biar dia sibuk saling otot2an & saling serang, debat kusir hanya untuk berebut pepesan kosong & akhirnya hanya menjadi penonton terus di pinggir lapangan?

BACA JUGA  Genetika dan Lingkungan: Menelusuri Aspek “Bawaan” Sifat Baik dan Buruk pada Manusia serta Hewan

Mental pejuang tidak lahir dari motivasi & tidak menuntut hasil cepat, tapi menolak berhenti.

Terkadang kamu dibenci bukan karena kamu Jahat, tetapi kamu dibenci karena kamu tidak kagum dengan gelar2 pendidikan formal seseorang & kamu juga tidak silau melihat jabatan atau tingginya pangkat dunia seseorang, sehingga kamu tidak bisa disetir untuk kepentingan memperkaya mereka & golongan mereka saja?

Jika semua orang bergerak kekanan, setidaknya kamu lihatlah apa yg ada disebelah kiri. Banyak orang menggantungkan hidupnya pada suasana hati. Saat mood baik, mereka produktif, berani, & penuh semangat. Namun saat mood turun, segalanya ikut berhenti. Tanggung jawabnya diabaikan, & tujuan terasa terlalu jauh untuk dikejar. Tanpa disadari, hidup mereka tidak digerakkan oleh arah, melainkan oleh perasaan & pikiran yg berubah2.

Orang tangguh tidak hidup dengan cara seperti itu. Mereka paham satu kenyataan penting: mood tidak pernah bisa diandalkan dalam perjalanan panjang.
Disiplin tidak terikat pada itu, orang tangguh tidak bertanya, “Aku sedang ingin atau tidak?” Mereka bertanya, “Apa yg perlu tetap dilakukan hari ini?” orang tangguh tetap bergerak bahkan saat tidak bersemangat
Banyak orang menunggu rasa ingin sebelum bertindak.

Orang tangguh memahami bahwa semangat sering justru muncul setelah bergerak, bukan sebelumnya. Mereka melangkah dalam keadaan lelah, bahkan jenuh & membiarkan konsistensi menumbuhkan kembali energi yg hilang. Karenq disiplin melindungi dari keputusan emosional. Karena saat mood buruk, keputusan yang diambil cenderung ekstrem: menyerah, berhenti, atau merusak apa yg sudah dibangun. Disiplin berfungsi sebagai pagar. Ia menahan seseorang agar tidak menghancurkan masa depannya hanya karena perasaan sementara.

Mood hanya mencari kenyamanan, disiplin menjaga tanggung jawab. Karena konsistensi lahir dari disiplin, bukan dari perasaan. Alasan paling umum untuk berhenti hampir selalu terdengar wajar: capek, bosan, & tidak mood.
Orang tangguh tidak menyangkal perasaan itu, tetapi juga tidak menggunakannya sebagai pembenaran.

BACA JUGA  Golkar Lampung Tengah: Kepentingan Kader Terabaikan, Potensi Konflik di Balik Penunjukan Plt

*)

Penulis : Eral Hengki

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Sinergi atau Subordinasi? Ketika Pers Terlalu Nyaman dengan Kekuasaan
Media Massa sebagai Arena Pertarungan antara Public Relations dan Public Opinion
Lima Ayat yang Menjelaskan Tuhan: Membaca Tauhid dalam Struktur Al-Qur’an melalui Pendekatan Tematik
Golkar Lampung Tengah: Kepentingan Kader Terabaikan, Potensi Konflik di Balik Penunjukan Plt
Meremehkan Diri Sendiri dan Hobi Mengeluh Dengan Semua Orang adalah Cara Halus untuk Gagal
Akibat Kemiskinan & Cuci Uang Para Koruptor
Gagal Pers: Krisis Jantung Demokrasi Indonesia yang Harus Segera Diobati
Perusahaan Pers Profesional: Kunci Kesejahteraan Wartawan dan Independensi Jurnalistik
Tag :

Berita Terkait

Monday, 30 March 2026 - 00:00 WIB

Sinergi atau Subordinasi? Ketika Pers Terlalu Nyaman dengan Kekuasaan

Monday, 16 March 2026 - 00:30 WIB

Media Massa sebagai Arena Pertarungan antara Public Relations dan Public Opinion

Monday, 9 March 2026 - 01:17 WIB

Lima Ayat yang Menjelaskan Tuhan: Membaca Tauhid dalam Struktur Al-Qur’an melalui Pendekatan Tematik

Sunday, 25 January 2026 - 04:54 WIB

Golkar Lampung Tengah: Kepentingan Kader Terabaikan, Potensi Konflik di Balik Penunjukan Plt

Sunday, 25 January 2026 - 01:02 WIB

Meremehkan Diri Sendiri dan Hobi Mengeluh Dengan Semua Orang adalah Cara Halus untuk Gagal

Berita Terbaru