Siapa di Balik CV Adie Jaya Perkasa ?

Thursday, 20 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

/FOTO.IST

/FOTO.IST

Siapa di Balik CV Adie Jaya Perkasa (AJP): Perusahaan Siluman yang Tak Tersentuh Hukum?
                                                                                                                                                                                                                 
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur di Lampung Selatan, sebuah nama perusahaan kontraktor muncul sebagai pusat kontroversi: CV Adie Jaya Perkasa. Entitas ini, yang diduga beroperasi seperti “siluman” dengan alamat kantor fiktif, berhasil menggenggam tender proyek jalan senilai lebih dari Rp20 miliar. Namun, di balik kemenangan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: Siapa sebenarnya di balik perusahaan ini, dan mengapa proses tendernya begitu mulus hingga menimbulkan kecurigaan pengondisian?
                                                                                                                                                                                               
Lampung, BP  – LSM Barisan Rakyat Anti Korupsi (BARAK) mendesak Polda Lampung untuk mengusut tuntas, termasuk peran pejabat daerah dan media yang diduga terlibat dalam pembentukan opini publik. Kemenangan Tender yang Mengejutkan. CV Adie Jaya Perkasa, yang terdaftar di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kementerian Hukum dan HAM, memenangkan dua paket proyek rekonstruksi jalan di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Lampung Selatan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025.
Proyek pertama adalah Rekonstruksi Jalan Pardasuka–Suban dengan nilai kontrak Rp7,99 miliar (nomor kontrak 182/KTR/KONS-BM/DPUPR-LS/APBD/2025). Proyek kedua, Rekonstruksi Jalan Bumi Daya–Bumi Restu–Trimomukti, bernilai Rp12,64 miliar. Totalnya mencapai Rp20,63 miliar, sebuah angka yang signifikan untuk perusahaan dengan rekam jejak minim di proyek berskala besar.

Menurut data tender yang tersedia, penawaran CV Adie Jaya Perkasa hanya berbeda tipis dari Harga Perkiraan Sendiri (HPS), yakni sekitar 0,05–0,07%. Pola ini sering kali menjadi indikator pengondisian tender, di mana peserta lain sengaja mengajukan harga lebih tinggi untuk memastikan pemenang tetap yang ditargetkan. “Perusahaan baru, menang tender dapat proyek Rp20 M lebih, ada apa?” tanya Sekretaris LSM BARAK, Heriansyah, dalam pernyataannya baru-baru ini.

Dugaan ini semakin kuat karena perusahaan ini minim pengalaman, dengan tidak adanya catatan proyek serupa di database nasional sebelumnya.Investigasi lapangan oleh media dan LSM BARAK mengungkap fakta mencolok: Alamat resmi perusahaan di Jalan Imam Bonjol Gang Bambu Kuning No. 13, Kota Metro, hanyalah ilusi. Lokasi tersebut ternyata sebuah toko hasil bumi tanpa aktivitas operasional apa pun. “Tidak ada aktivitas kantor konstruksi. Tidak ada Gang Bambu Kuning—yang ada Jalan Bambu Kuning. Tidak ada papan nama perusahaan. Warga sekitar mengaku tidak pernah melihat aktivitas kantor ataupun karyawan yang berkaitan dengan perusahaan konstruksi,” demikian temuan investigasi yang dirilis bongkarpost.co.id pada awal November 2025.

Lebih lanjut, data AHU mengonfirmasi bahwa pemilik dan penanggung jawab perusahaan adalah Dedy Jauhari, seorang warga Lampung yang identitasnya terdaftar secara legal. Namun, narasi media tertentu menyebut ‘ALI’ sebagai Direktur Utama, sebuah figur yang tidak tercantum dalam dokumen resmi. “Sosok ‘ALI’ dalam narasi di media tersebut tidak jelas, tidak memiliki posisi legal yang jelas. Patut diduga ini hanya figur yang digunakan untuk menutupi struktur kepemilikan sebenarnya,” ujar Heriansyah. Ketidaksesuaian ini memicu tuduhan penggunaan identitas fiktif untuk menghindari pengawasan.

BACA JUGA  Mendagri: Jangan Simpan Anggaran di Deposito

Pola Pengondisian dan Risiko Kerugian Negara. Secara analitis, kemenangan tender CV Adie Jaya Perkasa mencerminkan pola umum dalam kasus korupsi infrastruktur di daerah. Selisih penawaran yang minim menunjukkan kemungkinan kolusi antarpeserta tender, di mana harga HPS sengaja dibuat longgar untuk memudahkan pemenang “ditentukan”. Di Lampung Selatan, kasus serupa bukan hal baru. Pada Agustus 2024, melansir sinarlampung.co: Kepala Dinas PUPR setempat, Drs. Hasbi Aska, dilaporkan ke Polda Lampung atas dugaan penipuan terkait uang proyek.

Dari perspektif ekonomi, proyek infrastruktur seperti ini krusial untuk konektivitas antar-desa di Lampung Selatan, wilayah agraris dengan tingkat kemiskinan 12,5% (data BPS 2024). Namun, jika dikerjakan oleh entitas tanpa kapasitas, kualitas jalan bisa menurun, menyebabkan kerugian jangka panjang seperti biaya perawatan ekstra dan risiko kecelakaan. LSM BARAK memperkirakan, pola ini berpotensi merugikan negara hingga miliaran rupiah melalui markup tersembunyi atau subkontrak ilegal. “Negara dirugikan, kualitas pembangunan dipertaruhkan, dan publik dibodohi dengan opini media tertentu,” tegas Heriansyah.

Pemkab Lampung Selatan, khususnya di DPUPR, yang diduga lalai dalam verifikasi kualifikasi peserta tender. “Kami meminta aparat tidak hanya memeriksa perusahaan tetapi juga pejabat yang terlibat dalam proses tender,” desak BARAK. Selain itu, peran media online tertentu dikecam karena diduga melakukan “opinion laundering”—penyebaran narasi tanpa verifikasi untuk membenarkan keberadaan perusahaan. Beberapa artikel awal Oktober 2025 mengklaim kantor perusahaan aktif, bertentangan dengan bukti lapangan. Hal ini melanggar etika jurnalisme, sebagaimana diatur dalam Kode Etik Jurnalis Indonesia, yang menekankan verifikasi fakta.

Pemerintah daerah juga patut dikritisi atas lemahnya pengawasan. Meski Undang-Undang No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi mewajibkan transparansi, implementasi di tingkat kabupaten sering kali terhambat birokrasi dan konflik kepentingan. Di Lampung, KPK telah menangani puluhan kasus serupa sejak 2020, termasuk manipulasi proyek jalan di Lampung Timur yang merugikan Rp1,29 miliar.
                                                                                                                                                                                                           
Secara nasional, Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat 150 kasus tender fiktif di sektor PUPR sepanjang 2024–2025, dengan kerugian negara Rp50 triliun. Konteks ini menyoroti kelemahan sistem e-procurement di LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik), yang meski dirancang transparan, sering dimanipulasi melalui data palsu. Di Lampung Selatan, anggaran infrastruktur mencapai Rp500 miliar pada 2025, membuatnya rentan terhadap praktik kolusi.
                                                                                                                                                                                               
CV Adie Jaya Perkasa, dengan Dedy Jauhari sebagai pemiliknya, mewakili gejala lebih dalam: bagaimana perusahaan “siluman” bisa lolos pengawasan dan menguasai proyek publik. LSM BARAK telah berkoordinasi dengan Polda Lampung untuk pengecekan faktual, termasuk audit tender dan pemeriksaan pejabat terkait. “Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja,” tegas Heriansyah.

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Aktivis Desak Pencopotan Manajer Kebun Marihat Pasca-Insiden Penembakan Brutal
Pola yang Muncul Akibat Anomali Sistem: Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat
Polairud Lampung Rayakan HUT ke‑75 dengan Doa untuk Korban Bencana Aceh, Sumut & Sumbar
Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Pembangunan Perpustakaan Lampung Utara Tahap 2
Tragedi Banjir Bandang Sumatera Utara: Deforestasi Masif Kembali Disorot, Wawancara Harrison Ford 2013 Viral Lagi
Dugaan Korupsi Proyek Irigasi Rp 37,8 Miliar di Lampung Selatan: Material Bekas Jadi Sorotan
Bank Indonesia Lampung Gelar Capacity Building Jurnalistik bersama Tempo Institute – Tingkatkan Kualitas Penulisan Jurnalis
Studio 21 Pematangsiantar: Antara Penggerebekan Narkoba dan Dugaan Pembiaran, Masyarakat Menuntut Penindakan Tegas

Berita Terkait

Saturday, 6 December 2025 - 07:22 WIB

Aktivis Desak Pencopotan Manajer Kebun Marihat Pasca-Insiden Penembakan Brutal

Wednesday, 3 December 2025 - 09:20 WIB

Pola yang Muncul Akibat Anomali Sistem: Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat

Monday, 1 December 2025 - 11:06 WIB

Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Pembangunan Perpustakaan Lampung Utara Tahap 2

Sunday, 30 November 2025 - 17:52 WIB

Tragedi Banjir Bandang Sumatera Utara: Deforestasi Masif Kembali Disorot, Wawancara Harrison Ford 2013 Viral Lagi

Thursday, 27 November 2025 - 05:54 WIB

Dugaan Korupsi Proyek Irigasi Rp 37,8 Miliar di Lampung Selatan: Material Bekas Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Ilustrasi.foto dok BP

Editorial Opini

Sawit atau Suara Rakyat? Banjir Sumatera Mengungkap Krisis Bencana Nasional

Saturday, 6 Dec 2025 - 03:29 WIB